Dialog yang dikemas dalam bincang budaya itu dihadiri kalangan pelajar, mahasiswa, dan seniman Banyuwangi yang ingin mendengar langsung dari Rosi bagaimana prosesnya hingga saat ini.
Kegiatan ini juga dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Taufik Rohman, Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) Samsudin Adlawi, dan akademisi seni dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi Hari Purnomo.
Di hadapan audiens, Rosita Ujianti atau yang dikenal dengan Rosi banyak menceritakan bagaimana prosesnya sebelum akhirnya bisa menghasilkan beberapa karya lukis yang dipamerkan di Gedung Djuang tersebut.
”Awalnya saya hanya memasang satu lukisan yang saya buat dengan jari tangan. Kalau tidak salah lukisan penari Bali. Ternyata ada yang beli, begitu juga selanjutnya. Selalu terjual. Sampai akhirnya saya punya kesempatan membuat pameran sendiri di tahun 2018,” kata Rosi.
Apa yang diucapkan Rosi pun mengundang banyak reaksi dari audiens, termasuk para narasumber yang datang. Direktur JP-RaBa Samsudin Adlawi, misalnya. Dia melihat perjalanan hidup yang dialami Rosi-lah yang membuat lukisan-lukisannya menarik bagi para pencinta seni rupa di luar negeri.
Editor : Niklaas Andries