”Selawat Badar” tidak semata sebagai karya ta’abudiyah (ibadah), namun memiliki aspek sosio-historis yang luar biasa. Karya ini ditulis oleh Kiai Ali Manshur saat yang bersangkutan berada di Banyuwangi tahun 1962. Saat itu, Kiai Ali Mansur menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi.
Ketua DKB Hasan Basri mengatakan, penghargaan tersebut sangat penting dalam mengukuhkan posisi Banyuwangi dalam peta perjalanan politik dan budaya di Indonesia.
Dia menuturkan, Banyuwangi merupakan tempat sejarah terciptanya ”Selawat Badar”. ”Orang-orang yang berperan di dalamnya telah mengukuhkan Banyuwangi sebagai wilayah entitas politik dan budaya yang sangat penting dalam perjalanan dan percaturan politik di Indonesia,” ujarnya Rabu (15/8).
Menurut Hasan, penggubah ”Selawat Badar” sangat layak untuk diajukan sebagai pahlawan nasional. Dia menilai KH Ali Mansur berperan penting dalam sejarah perpolitikan Indonesia dengan sentuhan seni.
”Dengan sentuhan senilah bangsa ini telah berhasil menyeimbangkan percaturan politik di Indonesia,” kata dia.
Tidak sekadar menyampaikan apresiasi, Hasan mengaku DKB akan ikut berkontribusi memopulerkan ”Selawat Badar” dan tokoh penggubahnya kepada masyarakat Bumi Blambangan.
”DKB juga akan menggemakan Selawat Badar melalui beberapa cara, misalnya dalam forum diskusi dan aksi konkret menyebarkan Selawat Badar. Juga akan menggelar lomba Selawat Badar,” ucapnya.
Seperti diberitakan kemarin, penggubah ”Selawat Badar” KH Ali Mansur meraih bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Joko Widodo.
Penghargaan untuk KH Ali Mansur dituangkan dalam keputusan Presiden nomor 107/TK/TH 2024 tentang Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma. Penghargaan diterima oleh KH Ahmad Syakir Ali, putra sulung KH Ali Mansur yang didampingi putra bungsu, Gus Saiful Ali.
Usai menerima penghargaan Kiai Syakir Ali dan Gus Ali sempat ditemui Menpan-RB Abdullah Azwar Anas dan Bupati Ipuk Fiestiandani.
”Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berinisiatif dan bekerja keras untuk memberikan perhatian pada Selawat Badar. Berkat dukungan semua pihak, Selawat Badar mendapat pengakuan resmi dari presiden,” ungkap Kiai Syakir.
Ketua Komunitas Pegon Ayung Notonegoro mengapresiasi penghargaan yang sangat luar biasa tersebut. Menurut penulis buku Selawat Badar: dari Banyuwangi untuk Dunia, penghargaan dari Presiden tersebut menandakan bentuk pengakuan negara atas kemasyhuran ”Selawat Badar”.
Ayung mengatakan, ”Selawat Badar” ditulis oleh Kiai Ali Manshur saat beliau berada di Banyuwangi tahun 1962. Saat itu Kiai Ali Manshur menjadi Ketua Pengurus Cabang NU Banyuwangi.
Dia menyebut, ”Selawat Badar” telah menjadi lagu penyemangat dalam fase-fase heroik bangsa ini. Seperti saat masa-masa Gestapu melawan PKI dan lain sebagainya.
”Selama berkiprah di Banyuwangi inilah, Kiai Ali melahirkan karya fenomenal Selawat Badar tersebut. Selama bertugas di Banyuwangi, ia tinggal di Kelurahan Karangrejo, di kompleks kediaman Haji Mahfudz, salah seorang tokoh NU Banyuwangi. Di tempat ini pula, Kiai Ali menuliskan karyanya itu,” ungkap Ayung. (sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries