Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ritual Jamasan Pusaka Bulan Suro Bersama KRT Ilham Triadi Nagoro, Ada Keris Tangguh Blambangan yang Dibuat sejak Abad Ke-13 Masehi

Salis Ali Muhyidin • Rabu, 10 Juli 2024 | 07:00 WIB
HILANGKAN AURA NEGATIF: KRT Ilham Triadi Nagoro memandikan berbagai jenis pusaka di halaman kantor Disbudpar Banyuwangi, Senin Senin (8/7).
HILANGKAN AURA NEGATIF: KRT Ilham Triadi Nagoro memandikan berbagai jenis pusaka di halaman kantor Disbudpar Banyuwangi, Senin Senin (8/7).

Radarbanyuwangi.id - Tanggal 1 Suro menjadi momentum untuk jamasan pusaka. Ratusan keris dimandikan di halaman kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi menggunakan ubo rampe. Ada kembang tujuh rupa dan minyak wangi dilengkapi dengan sesaji.

Ritual jamasan pusaka yang difasilitasi Disbudpar ini sudah berjalan selama 18 tahun. Tak sekadar ritual, kegiatan tersebut juga menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus edukasi untuk merawat peninggalan leluhur nusantara.

Ratusan benda puasaka tersebut dibersihkan oleh penjamas sekaligus kolektor pusaka KRT Ilham Triadi Nagoro. Selama jamasan berlangsung, pusaka milik kolektor dan warga Banyuwangi dibersihkan dari kotoran dan karat. Keris diberi wewangian dan dimandikan dengan kembang tujuh rupa. Tujuannya untuk menetralkan pusaka dari energi negatif.

KRT Ilham Triadi Nagoro mengatakan, jamasan adalah sebuah ritual untuk membersihkan pusaka dari energi negatif. Tak hanya keris, beberapa pusaka lainnya seperti pedang, tombak, dan aneka tosan aji juga dijamas.

”Selama setahun, pusaka diyakini menyerap energi negatif dari pemiliknya. Jamasan berfungsi mengembalikan pusaka supaya mendapat energi positif,” beber Ilham yang juga dikenal sebagai pawang hujan tersebut.

SUROAN: KRT Ilham Triyadi Melakukan Pembersihan Pusaka Dihari Satu Syuro Di Pelataran Dinas Pariwisata Banyuwangi
SUROAN: KRT Ilham Triyadi Melakukan Pembersihan Pusaka Dihari Satu Syuro Di Pelataran Dinas Pariwisata Banyuwangi

Mengapa jamasan pusaka dilakukan pada bulan Suro? Ilham menjelaskan, masyarakat Jawa meyakini bulan tersebut adalah permulaan yang menandai pergantian tahun. Sehingga, banyak hal-hal baik yang dipercaya akan semakin efektif jika dikerjakan pada awal bulan Suro.

Jamasan diyakini tidak hanya membersihkan pusakanya. Setelah keris dimandikan, aura pemiliknya juga ikut bersih. ”Terkadang efek negatif dari pusaka yang kita jamas ikut terasa. Kadang terasa demam karena membersihkan pusaka yang energi negatifnya kuat,” kata Ilham.

Sejak dibuka pada Minggu (7/7) sudah ada dua ratus lebih pusaka yang dijamas. Yang tertua adalah keris Bethok Singosari dan keris Tangguh Blambangan yang dibuat sekitar abad ke-13 Masehi. Ritual jamasan akan digelar sampai Kamis (11/7). Bagi warga yang memiliki pusaka bisa memanfaatkan kesempatan untuk menjamas benda yang mereka miliki.

”Kami hanya memfasilitasi jamasan, terkadang pemilik pusaka tidak tahu bagaimana merawatnya. Kami tidak mematok harga, hanya mahar seikhlasnya,” kata Ilham. (aif/c1)

Editor : Niklaas Andries
#jawa #1 Suro #Disbudpar Banyuwangi #ritual #kolektor pusaka #KRT #Jamasan Pusaka #energi negatif #pawang hujan