Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rangkaian Tradisi Tumpeng Sewu, Dari Mepe Kasur hingga Ziarah Buyut Cili di Desa Kemiren Banyuwangi

Lugas Rumpakaadi • Sabtu, 8 Juni 2024 | 17:29 WIB
Warga suku Osing membersihkan kasur yang dijemur di depan rumahnya, Desa wisata Adat Kemiren. Tradisi ini dilakukan awal bulan dhulhizah untuk bersih desa
Warga suku Osing membersihkan kasur yang dijemur di depan rumahnya, Desa wisata Adat Kemiren. Tradisi ini dilakukan awal bulan dhulhizah untuk bersih desa

RadarBanyuwangi.id – Tradisi Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi rupanya memiliki rangkaian kegiatan.

Sebelum berkumpul di jalan utama desa untuk bersama-sama berdoa dan menyantap hidangan tumpeng yang disediakan oleh masing-masing keluarga, ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya.

Saat matahari terbit, masyarakat Desa Kemiren akan mengeluarkan asurnya masing-masing yang memiliki warna khas hitam dan merah untuk dijemur di depan rumah.

Tradisi ini disebut Mepe Kasur atau yang dalam Bahasa Indonesia berarti menjemur kasur.

Tak sekedar menjemur kasur saja, masyarakat Desa Kemiren juga berdoa dan memercikan air bunga di halaman mereka yang bertujuan agar dijauhkan dari bencana dan penyakit.

Sejauh mata memandang, saat tradisi Mepe Kasur ini berlangsung, tampak di setiap depan rumah penduduk berjajar rapi jemuran kasur berwarna dasar hitam dan bergaris merah.

Pemandangan itu menggambarkan betapa rukunnya warga Desa Kemiren.

Adapun makna filosofis dari tradisi ini adalah kasur dianggap sebagai benda yang sangat dekat manusia sehingga wajib dibersihkan agar kotoran yang ada di kasur hilang.

Warna kasur juga memiliki arti, merah berani dan hitam simbol kelanggengan, yang diartikan agar hidup dalam rumah tangga langgeng dan tentram.

Selanjutnya, masyarakat Desa Kemiren akan berziarah ke Makam Buyut Cili.

Buyut Cili dipandang sebagai pendiri desa yang pertama kali membuka wilayah tersebut.

Masyarakat Desa Kemiren percaya bahwa mereka merupakan keturunan langsung dari Buyut Cili, oleh karena itu, mereka menganggap Buyut Cili sebagai leluhur mereka.

Sebelum mengadakan arak-arakan barong dan Tumpeng Sewu, warga desa akan berziarah ke makam Buyut Cili untuk meminta perlindungan dari bencana.

Warga Kemiren meyakini bahwa roh Buyut Cili dapat meminjam tubuh seseorang untuk memberikan petunjuk dan keinginan yang harus dipenuhi, baik secara umum maupun individu.

Jika petunjuk dan keinginan tersebut tidak dipenuhi, Buyut Cili diyakini akan marah dan menyebabkan malapetaka.

Sejarah awal Desa Kemiren dimulai dengan kedatangan sesepuh yang dikenal sebagai Buyut Cili.

Identitas sesepuh ini tidak diketahui, namun dipercaya bahwa beliaulah yang mengembangkan agama Islam di wilayah timur dan menemukan hutan belantara yang dipenuhi tanaman seperti kemiri, durian, dan aren.

Dari situ, hutan tersebut dibabat atau ditebas untuk dijadikan tempat tinggal.

Nama desa pun diambil dari tumbuhan yang tumbuh di hutan saat itu, yaitu kemiri, durian, dan aren (Kemiren).

Malamnya, masyarakat Desa Kemiren akan berkumpul dan menyajikan hidangan tumpeng sebagai puncak tradisi Tumpeng Sewu.

Dalam acara ini, warga Desa Kemiren tidak lupa memohon doa agar desanya diberi keselamatan.

Masyarakat umum pun diperbolehkan untuk mengikuti tradisi Tumpeng Sewu ini.

Rencananya tradisi Tumpeng Sewu akan digelar pada Minggu (9/6) pukul 18.00 WIB. (*)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#tumpeng sewu #tradisi #ziarah #desa kemiren #rangkaian #Buyut Cili #banyuwangi #Mepe Kasur