Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sejarah Tumpeng Sewu, Dari Nazar Petani Hingga Jadi Tradisi Besar di Desa Kemiren Banyuwangi

Lugas Rumpakaadi • Sabtu, 8 Juni 2024 | 17:06 WIB
DESA ADAT: Pintu gerbang bertuliskan ”Desa Adat Osing Kemiren” berdiri megah di sisi timur. Mulai tanggal 6 November nanti Desa Kemiren berusia 166 tahun.
DESA ADAT: Pintu gerbang bertuliskan ”Desa Adat Osing Kemiren” berdiri megah di sisi timur. Mulai tanggal 6 November nanti Desa Kemiren berusia 166 tahun.

RadarBanyuwangi.id – Tradisi yang digelar di setiap daerah selalu memiliki asal-usul atau sejarah tersendiri termasuk Tumpeng Sewu di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Tumpeng Sewu yang merupakan tradisi turun-temurun, telah dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Kemiren sejak zaman leluhur mereka.

Namun, ternyata asal mula Tumpeng Sewu bukanlah tradisi yang dikenal seperti sekarang.

Dahulu, tradisi ini disebut “Selametan Kampung” dan berhubungan dengan nazar atau niat.

Pada awalnya, sebelum Desa Kemiren menjadi pemukiman, wilayah tersebut adalah kebon atau sawah.

Para petani yang memiliki sawah bernazar bahwa jika sawah mereka berhasil menghasilkan buah atau panen, mereka akan mengadakan selametan dengan hidangan pecel pitik.

Setelah kebon berubah menjadi pemukiman, tradisi selametan itu tetap dilanjutkan, meskipun namanya berubah dari selametan kebon menjadi selametan kampung.

Pada tahun 2007, setelah Desa Kemiren ditetapkan sebagai Desa Adat Wisata Osing, seluruh lembaga di desa sepakat untuk menggelar selametan secara bersama-sama pada satu hari di bulan Dzulhijjah.

Sebelumnya, selametan dilakukan secara berkelompok di hari yang berbeda-beda.

Dengan penggabungan ini, nama selametan kampung diubah menjadi Tumpeng Sewu, berdasarkan jumlah tumpeng yang disiapkan oleh warga, yakni minimal satu tumpeng per kepala keluarga (KK).

Dengan sekitar 1100 KK di Desa Kemiren, jumlah tumpeng yang disiapkan mencapai lebih dari seribu, sehingga disebut Tumpeng Sewu.

Setiap tahun, tepatnya sepekan sebelum Hari Raya Idul Adha, masyarakat Desa Kemiren membuat tumpeng yang dihidangkan di depan rumah masing-masing untuk dimakan bersama-sama.

Sebelum makan tumpeng, warga mengadakan doa bersama untuk meminta perlindungan dari bencana dan penyakit, serta sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen.

Tahun ini, Festival Tumpeng Sewu akan digelar pada Minggu (9/6) pukul 18.00 WIB. (*)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#tumpeng sewu #besar #tradisi #Petani #sejarah #Nazar #desa kemiren #banyuwangi