Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Event Tahunan Banjoewangi Kolo Semono: Cerita Sejarah Banyuwangi, Gunakan Alat Peraga Wayang

Ayu Lestari • Kamis, 6 Juni 2024 | 17:16 WIB

MENGHIBUR: Budayawan senior Banyuwangi, Aekanu Hariyono, bercerita sejarah Bumi Blambangan di hadapan anak-anak sekolah memakai alat peraga wayang kulit. 
MENGHIBUR: Budayawan senior Banyuwangi, Aekanu Hariyono, bercerita sejarah Bumi Blambangan di hadapan anak-anak sekolah memakai alat peraga wayang kulit. 
Radarbanyuwangi.id - Event tahunan ”Banjoewangi Kolo Semono” menampilkan berbagai atraksi seni. Ada seni musik tradisional, sinden, teater, hingga edukasi sejarah Bumi Blambangan masa lampau. Event ini juga dikemas dengan penyampaian materi unik.

Banjoewangi Kolo Semono mengundang seluruh masyarakat untuk hadir dan merasakan kekayaan budaya, sejarah, dan tradisi dalam perayaan dan pameran tempo dulu. Masyarakat bisa mempelajari kebudayaan dan napak tilas sejarah Blambangan.

Banjoewangi Kolo Semono secara harfiah bermakna ’Banyuwangi tempo dulu’. Kegiatan yang masuk dalam kalender Banyuwangi Festival (B-Fest) tersebut secara resmi dibuka pada Senin (3/6) oleh Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Taufik Rohman. Event tahunan tersebut rencananya bakal berlangsung hingga 7 Juni mendatang.

Menurut Taufik, Banjoewangi Kolo Semono adalah panggung bagi ragam seni kebudayaan di Bumi Blambangan. Tidak hanya itu, kuliner tradisional mulai dari hidangan hingga minuman tradisional seperti jamu juga dihadirkan dalam acara tersebut.

Tak hanya itu, berbagai hasil kerajinan klasik berbahan kayu dan bambu, batu permata, serta keindahan batik tradisional juga dipamerkan dalam acara tersebut.  

”Kegiatan ini berlangsung selama sepekan. Setiap harinya berbagai tampilan kami suguhkan
Tidak hanya seni, namun kami juga memberikan eduwisata kepada siswa jenjang SD,SMP, dan SMA tentang Banyuwangi jaman dulu,” ujar Taufik.

Ada sejumlah kegiatan yang turut meramaikan event Banjoewangi Kolo Semono. Di antaranya eduwisata kajian koleksi museum, live music, lelang barang unik, hingga berbagai kegiatan lomba.

PEMBEDA: Sejarah Banyuwangi diaktualisasikan dalam wujud perwayangan
PEMBEDA: Sejarah Banyuwangi diaktualisasikan dalam wujud perwayangan

”Acara ini bagus sekali sebagai media pengenalan sejarah dan tradisi Banyuwangi. Tahun ini kami menyorot soal gastronomi atau dunia kuliner tradisional yang sebagaimana kita tahu Banyuwangi ini sangat kaya akan kuliner. Mari kita ramaikan Banjoewangi Kolo Semono agar pengetahuan kita bertambah,” ajak Taufik.

Pada hari pertama pembukaan, para pengunjung diajak untuk mengetahui tentang bagaimana Blambangan di masa lalu dengan menghadirkan dua narasumber ahli.

Salah satunya yakni budayawan senior, Aekanu Hariyono. Pria yang akrab disapa Aekanu tersebut menyampaikan materi dengan alat peraga seperti wayang dan gitar.

Para siswa yang datang untuk belajar sejarah Banyuwangi dan mengunjungi museum blambangan terlihat sangat antusias.

”Pengunjung disajikan dengan berbagai pengetahuan, pameran, dan seni yang bermacam-macam. Senang sekali dapat turut memeriahkan kegiatan ini. Tentu saya berharap, para generasi penerus dapat lebih mengetahui sejarah Banyuwangi sebagai ilmu tambahan,” pungkas Taufik. (aif/c1)

 

Editor : Niklaas Andries
#museum #sma #sejarah #sd #budayawan #Banjoewangi Kolo Semono #banyuwangi #wayang #Banyuwangi Festival #smp #Napak Tilas #b-fest