Naskah tersebut memang memiliki ciri khas, baik dalam segi tulisan maupun cara membacanya. Bahkan, pembaca naskah lontar juga seakan menyanyi dengan lagu daerah Banyuwangi.
Naskah lontar tersebut menjadi pembahasan di Sosialisasi Ikon di Hotel Aston Banyuwangi Selasa (7/5). Sosialisasi diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI berkerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Banyuwangi.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpunas Republik Indonesia Agus Sutoyo. Selain itu, Bupati Ipuk Festiandani Azwar Anas hadir dan menyampaikan sambutan secara virtual.
Acara kali ini juga dihadiri Kepala Disperpusip Banyuwangi Zen Kostolani serta Ketua dan Pengarah Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri dan Samsudin Adlawi.
Sosialisasi itu menghadirkan pembicara dari Dewan Pakar Ikon, Oman Fathurahman dan Sudibyo. Hadir pula Perwakilan Perpusnas RI Adi Wisnurutomo, Universitas PGRI Banyuwangi Wiwin Indriarti, Badan Riset dan Inovasi Nasional Agus Iswanto, dan Ayung Notonegoro dari Komunitas Pegon Banyuwangi.
"Naskah wocoan lontar asal Banyuwangi itu memang sejauh ini masih ada dan terus berkembang sesuai kondisi,” ujar Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas RI Agus Sutoyo.
Agus menjelaskan bahwa pembahasan dalam sosialisasi untuk naskah kuno yang diajukan menjadi Ikon memang tidak menutup kemungkinan yaitu naskah lontar. Dikarenakan beberapa naskah lontar ada yang tertulis di kertas kuno maupun lainnya.
“Namun, pembahasan tersebut sesuai hasil diskusi sosialisasi dari berbagai organisasi dan kalangan pembuat naskah di Banyuwangi. Bahkan harus melewati berbagai pemeriksaan dan berbagai ahli,” jelasnya.
Agus menambahkan pembahasan dan sosialisasi kemarin digelar untuk meningkatkan literasi anak-anak terhadap naskah kuno. Dia menuturkan, naskah kuno tersebut nantinya akan dibuat menjadi komik untuk menarik anak-anak membacanya.
“Upaya ini tentunya untuk meningkatkan literasi membaca anak-anak agar tidak berpandangan bahwa naskah kuno hanya untuk orang-orang tua saja," kata dia.
Masih menurut Agus, di Perpusnas saat ini sudah ada sekitar 10 ribu lebih naskah kuno. Nah, naskah kuno itulah yang nanti dibuat menjadi komik untuk menarik anak-anak agar membacanya.
“Tentunya dengan membaca naskah kuno mambuat anak-anak dapat mengetahui sejarah yang ada. Sehingga tidak menghilangkan sejarah," jelasnya.
Sementara itu, Bupati Ipuk Fiestiandani Azwar Anas mengaku sangat senang dengan diselenggarakannya sosialisasi Ikon tersebut. Diharapkan dapat membawa naskah kuno Banyuwangi menjadi salah satu MOW yang tercatat di UNESCO.
"Semoga dengan sosialisasi ini dapat membawa naskah kuno Banyuwangi bisa menjadi Ikon yang mendapatkan MOW, sehingga bisa tercatat di Unesco," harap Ipuk.
Ipuk juga berharap dengan keberadaan naskah kuno yang dibuat dalam bentuk komik tersebut literasi masyarakat Banyuwangi dapat meningkat. Sehingga, anak-anak dapat mengenal sejarah, khususnya sejarah Blambangan.
"Semoga dengan adanya naskah kuno yang menjadi komik bisa menarik dan meningkatkan literasi," pungkasnya. (rio/sgt)
Editor : Niklaas Andries