Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Diciptakan Seniman Asli Banyuwangi, Berikut Fakta Seputar Lagu Genjer-Genjer yang Sempat Populer di Blantika Musik Nasional Era 60an

Niklaas Andries • Selasa, 23 April 2024 | 15:45 WIB

NASIONAL: Lagu Genjer-genjer sempat tenar dan dibawakan penyanyi top di era 60an
NASIONAL: Lagu Genjer-genjer sempat tenar dan dibawakan penyanyi top di era 60an
Radarbanyuwangi.id - Banyuwangi tidak pernah kehabisan stok seniman handal. Kedekatan budaya dan tradisi masyarakatnya mampu membuat darah seni tertanam hampir dalam sebagian besar masyarakatnya.

Karya-karya yang dihasilkan pun cukup fenomenal. Beberapa diantaranya bahkan mampu menjadi ikon dan kebanggan budaya Suku Osing. Dari sekian banyak karya fenomenal itu diantaranya Lagu Genjer-Genjer.

Lagu Banyuwangi sempat hits di era tahun 1950an hingga 1965. Beberapa musisi besar tanah air seperti Lilis Suryani hingga Bing Slamet pernah membawakan lagu ini. Pencipta lagu ini adalah Muhamad  Arif.

Dulunya dia tinggal di Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi. Sayangnya hingga kini juntrungan nasibnya tidak pernah terdengar sia lagi.  Arif meninggalkan seorang istri bernama Suyekti, dan dua anak.

Mereka pernah diketahui tinggal di sebuah rumah di dalam sebuah gang di sekitaran Jalan Ijen, Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi. Letaknya tidak jauh dari PT Kertas Basuki Rahmat.

Dalam sebuah wawancara yang pernah dilakukan sebelumnya, Suyekti bercerita tentang sejarah Lagu Genjer-Genjer ciptaan suaminya tersebut. Menurutnya, lagu tersebut sudah lama diciptakan. Bahkan jauh sebelum pemberontakan PKI tahun 1965 meletus, lagu itu sudah ada.

Persisnya, Lagu Genjer-Genjer diciptakan Muhamad Arif sekitar tahun 1942. Tepatnya  pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Suyekti menceritakan  saat zaman Jepang dulu, kehidupan masyarakat Indonesia sangat susah.

Jangankan hidup enak, sekadar untuk makan saja, masyarakat harus banting tulang mencari apapun yang bisa dimakan. ‘’Kalau teringat hal itu, saya suka menangis,’’ katanya sambil mengusap air mata.

Suyekti menceritakan suaminya dulu sangat hobi bermain angklung dan menciptakan lagu. Ada beberapa lagu yang diciptakan sangat menyentuh hati.

Namun hobinya itu sempat terhenti saat ditugaskan sebagai veteran di Surabaya. Arif mulai jarang menulis lagu lagi. Dari perjalanan Banyuwangi-Surabaya naik kereta inilah inspirasi Lagu Genjer-Genjer lahir.

‘’Ketika perjalanan pulang naik kereta dari Surabaya ke Banyuwangi, dia melihat orang memetik genjer di tepi sawah. Karena kekurangan makanan, genjer itu dipetik untuk dimakan. Lalu muncullah ide untuk membuat lagu genjer tersebut,’’ ujar wanita asal Malang itu.

Setibanya di Banyuwangi, Arif langsung menghubungi temannya bermain musik yang bernama Buang Bajuri. Kebetulan Buang adalah seniman yang mahir bermain angklung.

‘’Lagu itu mengisahkan kurangnya pangan masyarakat zaman penjajahan Jepang. Sehingga tanaman genjer pun terpaksa dipetik untuk dimasak lalu dimakan. Bapak-bapak mencari gadung untuk nasi dan para wanita mencari genjer di sawah,’’ jelas Suyekti.

Buang Bajuri, warga Temenggungan, Banyuwangi juga membenarkan apa yang dikatakan Suyekti. ’M. Arif  itu adalah teman dekatnya. Hobi keduanya sama yakni suka bermain angklung dan menciptakan lagu.

Buang mengatakan, lirik Lagu Genjer-Genjer menceritakan tentang tanaman genjer yang ada di sawah. Lalu dimasak untuk dimakan. Karena zaman itu memang masa susah akibat kekurangan pangan. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#angklung #genjer-genjer #hobi #surabaya #indonesia #jepang #kekurangan pangan #Bing Slamet #Seniman #suku osing #sawah #banyuwangi #Lilis Suryani