Namun, ternyata warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, juga memiliki tradisi serupa.
Tradisi Kebo-keboan di Boyolangu tersebut berlangsung cukup meriah Kamis (18/4).
Kegiatan yang diklaim sudah berlangsung turun-temurun sejak 1950-an itu merupakan rangkaian tradisi Puter Kayun yang bakal digeber hari ini (19/4).
Selain melestarikan tradisi, Warga Boyolangu menggelar tradisi Kebo-keboan sebagai wujud syukur kepada Tuhan.
”Kebo-keboan ini merupakan tradisi. Jadi, hampir setiap tahun digelar dan setiap tahunnya semakin berkembang,” ujar Slamet Darmadi, tokoh pemuda dan adat Boyolangu.
Darma mengatakan bahwa tradisi Kebo-keboan memang sudah dilaksanakan sejak dahulu.
”Untuk tahun ini ada tiga pasang ’kerbau’ yang diturunkan. Artinya, partisipasi masyarakat Kelurahan Boyolangu semakin meningkat,” kata dia.
Sebab, imbuh Darma, pada pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya hanya satu pasangan kerbau yang ”diterjunkan” sehingga kurang mengundang daya tarik masyarakat.
”Alhamdulillah, semua masyarakat saat ini mau berjibaku membantu nguri-uri adat leluhur,” kata dia.
Tradisi Kebo-keboan Boyolangu ternyata mendapat sokongan dari salah satu pengusaha di Banyuwangi, yakni owner Rizky Bahari, Bunyamin.
Bagi Amin—sapaan karib Bunyamin, tradisi di kampungnya tersebut harus terus dilestarikan. Sebab, bisa menjadi salah satu pendorong perekonomian warga sekaligus melestarikan tradisi.
”Alhamdulillah, seluruh persiapan hingga pelaksanaan berjalan lancar,” kata dia.
Lurah Boyolangu Miftahul Huda menjelaskan, tradisi tradisi Kebo-keboan tersebut hampir setiap tahun digelar. Setelahnya akan dilanjutkan dengan tradisi Puter Kayun.
”Tradisi tersebut dilaksanakan sejak 9 Syawal hingga 10 Syawal karena sudah menjadi agenda tahunan masyarakat Boyolangu,” jelasnya. (rio/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries