Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Musik Kendang Kempul Mati Suri di Akhir 1990-an, Booming Lagi Berkat Patrol Orkestra Banyuwangi

Sigit Hariyadi • Kamis, 18 April 2024 | 18:47 WIB
Di beberapa sudut Kota Banyuwangi masih ada pedagang kaki lima yang menjual kaset VCD jadul. Lagu-lagu lawas Banyuwangi juga masih ada. (Dok. Radar Banyuwangi)
Di beberapa sudut Kota Banyuwangi masih ada pedagang kaki lima yang menjual kaset VCD jadul. Lagu-lagu lawas Banyuwangi juga masih ada. (Dok. Radar Banyuwangi)

RadarBanyuwangi.id – Pada tahun 1970-an, lagu kendang kempul khas Banyuwangi mencapai puncak kejayaan.

Tidak hanya mampu menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri, lagu-lagu berbahasa Osing tersebut juga sukses merambah beberapa daerah tetangga, yakni sejumlah kota di wilayah Jawa Timur, khususnya wilayah Tapal Kuda dan Bali.

Ketenaran lagu kendang kempul pun sukses membelalakkan mata para produser musik ibu kota.

Buktinya, sejumlah lagu berbahasa Osing banyak yang digubah ulang menggunakan lirik berbahasa Indonesia.

Salah satu lagu kendang kempul yang dirilis ulang dengan lirik bahasa Indonesia adalah “Ulan Andung-andung”.

Eksistensi musik Banyuwangi itu mengantarkan beberapa seniman lokal go nasional. Sebut saja Sumiati dan alm. Alif S.

Sayang, seiring berjalannya waktu, lagu kendang kempul mulai “ditinggalkan” masyarakat.

Bahkan, di tahun 1990-an, lagu lagu Banyuwangi tersebut seolah “mati suri”.

Meski sejumlah seniman tetap eksis menciptakan lagu berbahasa Osing, tapi aliran musik yang satu itu tak bisa mengulang memori manis kejayaannya.

Hingga akhirnya sekelompok anak muda yang tergabung dalam grup musik Patrol Orkestra Banyuwangi (POB) berhasil mengobrak-abrik pasar musik Bumi Blambangan.

Dengan mengusung 12 lagu andalan, Album POB I yang dirilis tahun 2001 dalam bentuk kaset pita itu sukses terjual sekitar 300 ribu copy.

Salah satu seniman yang berperan besar memunculkan grup musik “POB” adalah Triyono Adi, 50.

Pria yang lebih di kenal dengan nama Yons DD itu adalah kom poser sejumlah lagu dalam album yang laris-manis di pasaran tersebut, diantaranya “Semebar”, “Tetese Eluh”, dan “Mawar”.

Menurut Yons, sebenarnya tiga lagu tersebut diciptakan tahun 1993 silam Lagu-lagu yang belakangan booming di pasaran itu awalnya sangat sulit menembus dapur rekaman.

Sejumlah produser lokal enggan menerima lagu-lagu karya Yons lantaran dianggap tidak sesuai selera pasar.

Belum mau menyerah, Yons tetap menyodorkan karyanya itu ke sejumlah dapur rekaman di Jakarta. Lagi-lagi dia harus gigit jari.

Sekembali ke Bumi Blambangan, pria berperawakan kurus itu menyodorkan 12 lagu ciptaannya beserta grup musik patrol yang dia bidani ke salah satu rumah produksi di Banyuwangi.

Kala itu, pihak produser hanya bersedia membeli 12 lagu ciptaan Yons, tapi tidak mau mengorbitkan grup patrol yang digawangi Yons.

Karena merasa seluruh akses mengangkat grup musik tersebut sudah buntu, Yons pun menyetujui tawaran sang produser yang ingin membeli 12 lagu ciptaannya itu.

Namun, takdir berkata lain, baru satu dari 12 lagu yang di tawarkan tersebut dibayar oleh sang produser, ada salah satu penikmat musik asal Jakarta yang “mengintip” dapur latihan grup musik yang digawangi Yons DD, Catur Arum, dan sejumlah seniman lain tersebut.

“Angin surga” pun mulai berembus. Warga ibu kota tersebut bersedia membiayai rekaman grup musik yang kala itu belum memiliki nama.

“Lalu, “produser” asal Jakarta ter sebut memberi nama grup kami POB. Proses rekaman kami lakukan di salah satu studio musik di kawasan Jakarta Selatan,” beber lelaki yang tinggal di Jalan Riau, Gang Permata 24, Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi, itu.

Yons menambahkan, liku-liku tajam yang harus dilalui untuk membesarkan POB belum berhenti pasca rekaman tersebut.

Sebab, dia, Catur Arum, dan sang produser, sama-sama “buta” marketing kaset.

Dirinya dan Catur-lah yang memasarkan sendiri hasil karyanya itu dari pintu ke pintu. Berbulan-bulan ribuan keping kaset tersebut tidak laku.

Hingga akhirnya, pada Agustus 2001, grup musik POB mulai dipercaya manggung di beberapa daerah di Banyuwangi.

Tak dinyana, lagu-lagu yang dibawakan grup tersebut men dapat sambutan positif masyarakat.

“Sejak itulah kaset POB I diburu konsumen. Album tersebut terjual sekitar 300 ribu copy,” cetusnya.

Nah, setelah kemunculan POB yang cukup fenomenal tersebut, perlahan tapi pasti industri musik Banyuwangi kembali bergeliat.

Para pencipta lagu berbahasa Osing pun bermunculan seperti jamur di musim hujan. Artis-artis muda pun demikian.

Lagu-lagu berbahasa Osing kini kembali bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#osing #musik #kendang kempul #banyuwangi #bahasa