Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sejarah Kendang Kempul Musik Tradisional Banyuwangi, Rekaman Susah Salah Sedikit Harus Diulang

Ali Sodiqin • Kamis, 18 April 2024 | 18:17 WIB
Salah satu sampul VCD Patrol Orkestra Banyuwangi (POB) yang diproduksi awal 2000-an. (Dok. argamisu.blogspot.com)
Salah satu sampul VCD Patrol Orkestra Banyuwangi (POB) yang diproduksi awal 2000-an. (Dok. argamisu.blogspot.com)

RadarBanyuwangi.id – Gaya  musik Banyuwangi yang populer tahun 1950  hingga 1960-an masih didominasi musik tradisional angklung caruk dan gandrung.

Angklung lebih banyak menampilkan lagu-lagu tanpa vocal. Saat itu, banyak penari gandrung yang sudah menyanyikan lagu klasik Banyuwangi seperti Padha nonton, Sekar Jenang, Erang-erang, Embat-embat dan lainnya. 

Memasuki tahun 1970-an, Bupati Djoko Supaat Slamet menyadari bahwa Banyuwangi punya aset yang tidak dimiliki daerah lain.

Dia memberi kesempatan luas kepada para pecinta lagu untuk menampilkan karya terbaiknya.

Setelah itu muncul nama seperti Basir Noerdian, Andang Cy, M. Hariyanto, Soepranoto, Endro Wilis, Fatrah Abbal dan lain-lain.

Keberadaan para pencipta lagu daerah itu pun semakin eksis saat itu.

Rekaman lagu daerah dipelopori oleh RKPD yang saat itu berada di komplesk di Pendapa Sabha Swagata Blambangan. Awalnya yang ditampilkan adalah lagu jenis keroncong.

Dalam perkembangannya, musik angklung kembali muncul menggiringi mereka.

Waktu itu yang sering tampil adalah penyanyi legendaris Noerjanah. Lagu-lagu yang dibawakan Kali Lo, Ore-ore Kembang Jambe, Dalu-dalu, dan yang lainnya.

‘’Rekaman saat itu, susah. Pakai tape kuno merk Tace. Jika salah ulangi lagi, ada adzan di masjid agung Baiturahman berhenti. Bahkan ada buah mangga jatuh pun, rekaman harus diulang lagi. Tidak ada dubbing,’’ kenang pencipta lagu daerah Banyuwangi, Basir Noerdian, kepada Radar Banyuwangi pertengahan tahun 2000 silam.

Menurut Basir, saking susahnya rekaman, satu lagu bisa memakan waktu sebulan. Kalau zaman sekarang sudah canggih, rekaman satu hari pun selesai. Semua itu tidak lepas dari peran perkembangan teknologi.

Pencipta lagu daerah lainnya Andang Cy juga pernah mengalami masa sulit rekaman tempo dulu.

Meski demikian, dia beserta rekan-rekan tak pantang menyerah.

Bahkan ketika menggarap lagu Pethetan yang kemudian jadi hits dengan penjualan menembus 10 ribu copy, mereka harus sabar menjalani proses rekaman dari malam hingga malam lagi keesokan harinya!

Seiring berjalanya waktu, muncul bentuk dan warna baru musik Banyuwangi yakni kendang kempul.

Jenis ini tumbuh dan berbasis dari kelompok pemusik dangdut dengan penambahan instrumental kendang bongo, kempul dan gong.

Melodinya pun mirip orkes Melayu. Sejak saat itu, orang mengenal bahwa musik Banyuwangi identik dengan kendang kempul.

Seperti jenis musik lainnya, lagu daerah Banyuwangi semakin mengalami perubahan.

Namun lagu Banyuwangi punya ciri khas yakni termasuk pentatone. Penta artinya lima, sedangkan tone artinya suara atau nada. Lagu daerah Banyuwangi biasa menggunakan lima nada yakni do, re, mi, sol dan la.

Memasuki era millenium, muncul musik yang dimotori anak-anak muda seperti Patrol Orkestra Banyuwangi (POB), grup musik Rolas dan lainnya.

Hadirnya generasi ini patut diacungi jempol dalam memperkaya kreatifitas lagu daerah. Mereka berani tampil dengan warna baru namun tetap dalam khasanah musik daerah Banyuwangi.

Nama-nama penyanyi muda juga bermunculan meramaikan bursa musik di Bumi Blambangan. (*)

Catatan: Artikel ini ditulis oleh Aldilla Afrikartika (mantan jurnalis Radar Banyuwangi) medio 2007. Saat ini, beberapa nara sumber sudah meninggal dunia.

Editor : Ali Sodiqin
#sejarah #musik tradisional #rekaman #kendang kempul #banyuwangi