Di pulau yang dahulu bernama Irian Jaya ini tersimpan tradisi unik yang ternyata belum banyak diketahui oleh khalayak luas. Salah satunya yakni potong jari yang dipraktikkan oleh wanita dari Suku Dani, Papua.
Tradisi potong jari ini dikenal oleh masyarakat Suku Dani dengan sebutan Iki Palek. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus duka cita atas meninggalkan anggota keluarta maupun kerabat dekat.
Dilansir Radar Papua, tradisi ini dilakukan oleh wanita Suku Dani sebagai cara untuk mengekspresikan kesedihan yang mendalam. Bagi mereka, menangis saja tidaklah cukup.
Maka rasa sakit dari memutuskan jari dianggap merepresentasikan luka yang terdalam di hati dan jiwa. Dalam proses pemotongan jari ini, ritualnya dilakukan tanpa anastesi atau obat penghilang rasa sakit.
Tak ayal imbas dari pemotongan ini menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi pelakunya. Meskipun demikian, wanita Suku Dani melakukannya dengan penuh kesabaran dan ketabahan hati.
Sebab ritualn ini didasari sebagai bentuk cinta dan penghormatan kepada yang telah meninggal. Hanya saja, tradisi ini bukanlah tanpa efek samping.
Selain menyebabkan penderitaan fisik yang luar biasa. Pemotongan jari juga meninggalkan luka permanen yang mengganggu fungsi tangan atau kaki bagi yang melaksanakan ritual ini.
Wanita yang telah memutuskan jari akan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari, seperti menanam, memasak, atau menjahit. Selain itu, tradisi ini juga berdampak pada populasi suku Dani.
Sebab banyak wanita yang telah memutuskan jari dianggap tidak layak menikah. Melihat dampak negatifnya, pemerintah telah melarang tradisi ini sejak tahun 1970-an. Meski sudah dilarang, ternyata masih ada saja beberapa wanita Suku Dani yang melakukan tradisi ini secara diam-diam.
Mereka merasa masih terikat dengan adat dan kepercayaan leluhur. Disisi lain juga ada kekhawatiran, bila meninggalkan ritual ini mereka akan mendapat kutukan atau malapetaka.
Namun kini tradisi potong jari Suku Dani kini semakin langka. Salah satu penyebabnya yakni pengaruh modernisasi dan globalisasi yang masuk ke tanah Papua. Banyak generasi muda Suku Dani yang menolak untuk melanjutkan tradisi ini.
Sebab mereka menganggapnya sebagai tindakan yang tidak manusiawi dan tidak relevan lagi dengan zaman modern.
Dengan demikian, tradisi potong jari Suku Dani mewakili perjuangan antara penghormatan tradisional dan kebutuhan akan perubahan yang lebih baik bagi kesejahteraan dan hak asasi manusia wanita di Papua.
Meskipun masih ada yang masih berupaya untuk mempertahankannya. Tapi, semakin banyak yang menyadari bahwa tradisi ini harus ditinggalkan demi masa depan yang lebih baik. (*)
Editor : Niklaas Andries