Radarbanyuwangi.id – Ritual Barong Ider Bumi yang digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah pada Kamis (11/4) lalu menuai reaksi beragam.
Munculnya tari-tarian dan sosok Dewi Sri yang selama ini tak pernah ada justru dianggap mengurangi kesakralan ritual tolak bala itu.
Bukan itu saja, jumlah penonton pun tidak seramai biasanya. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, ritual ini selalu bisa menyedot ribuan orang untuk mengunjungi Desa Adat Kemiren.
Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri mengatakan, memang ada yang berbeda dari pelaksanaan Barong Ider Bumi tahun ini.
Selain tidak banyak pengumuman yang terpasang, dia juga mendengar komentar miring soal keberadaan sosok Dewi Sri yang mengikuti arak-arakan barong.
Hasan sendiri menilai Barong Ider Bumi sebagai sebuah ekspresi spiritualitas dari masyarakat Kemiren. Bukan semata perayaan yang bisa dikemas agar tampil menarik.
Meski demikian, Hasan mengatakan bahwa pelaksanaan Barong Ider Bumi menjadi kewenangan dari masyarakat adat dan komunitas adat di Desa Kemiren.
Hasan menyebut, pihaknya sebagai masyarakat luar hanya berharap pelaksanaan ritual tersebut tetap sesuai pakem.
Sehingga, mereka yang menyaksikan Barong Ider Bumi bisa merasakan kesakralan ritual adat Kemiren yang sudah digelar turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.
”Kita orang luar hanya merasa eman-eman saja. Tapi, semua kembali lagi kepada masyarakat Kemiren yang bisa mengevaluasi sendiri. Mungkin jika perlu nasihat, kita juga bisa memberikan nasihat,” kata Hasan.
Sementara itu, Ketua Adat Kemiren Suhaimi mengatakan, memang ada beberapa kegiatan tambahan pada ritual Barong Ider Bumi tahun ini.
Pengembangan itu dilakukan untuk menambah daya tarik ritual tersebut.
Suhaimi juga mengatakan bahwa mereka yang berpartisipasi pada ritual tersebut, seperti pelaku tari-tarian, juga berasal dari Sanggar Cindih Sutro Kemiren.
Mereka ingin ikut meramaikan ritual yang selama ini juga menjadi tontonan massal tersebut.
”Kemarin kami serahkan kepada kelompok sadar wisata (pokdarwis) agar dikemas lebih bagus. Yang penting tidak mengubah inti ritualnya. Kemiren ini Desa Wisata, jadi perlu dikembangkan,” kata Suhaimi.
Mendengar adanya pro dan kontra berkaitan tambahan dalam ritual tersebut, Suhaimi mengatakan pihaknya tidak ingin menolak mereka yang ingin berpartisipasi.
Apalagi, mereka berasal dari kelompok anak muda yang ke depannya bakal menjadi penerus dari ritual Barong Ider Bumi.
Suhaimi khawatir, jika mereka tak dilibatkan, maka generasi muda akan enggan cawe-cawe melestarikan budaya tersebut.
Yang terpenting, menurutnya, pakem dari ritual tersebut tidak diubah dan tetap ada.
”Kemarin kami juga tidak mengundang banyak orang. Hanya dari kecamatan sekitar saja. Makanya tidak seramai biasanya. Selain itu juga terbentur anggaran. Jadi, digelar dengan persiapan yang disesuaikan dengan anggarannya,” pungkas Suhaimi. (fre/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries