Suku Osing menyebutnya sebagai Tradisi Barong Ider Bumi. Dari namanya, ider berarti berkeliling. Dan, bumi artinya tempat pijakan. Ider bumi dapat diartikan sebagai menglilingi tempat berpijak.
Upacara sinkretisme ini ditujukan sebagai rasa syukur atas keselamatan yang diberikan khususnya sebagai ritual tolak bala. Tradisi ini juga bagian dari keyakinan adanya kebaradaan danyang di Kemiren yakni dikenal dengan Buyut Cili.
Dilansir laman Kemenkopmk, tradisi ider bumi sendiri memiliki paparan perjalanan sejarah yang panjang. Diperkirakan ritual kini dimulai saat ada peristiwa serangan wabah pageblug pada sekitar tahun 1800an. Efeknya sangat dirasakan masyarakat kala itu.
Tidak hanya tanaman di sawah warga di serang hama. Tetapi warga juga diserang penyakit mematikan. Hingga kondisi itu menimbulkan ketakutan yang luar biasa di dalam masyarakat. Dari sanalah kemudian warga mencoba mencari solusi.Baca Juga: Tepat Hari Ini, 5 April 1981 Serial Boneka Si Unyil Mengudara Kali Pertama Lewat Siaran TVRI
Salah satunya dengan berziarah ke makam leluhur yakni Buyut Cili. Mereka ada semacam petunjuk untuk membasmi pageblug.
Tak lama berselang wangsit pun akhirnya diperoleh. Dalam pesan spiritual itu, warga diminta menggelar ritual upacara dan arak-arakan mengelilingi desa.
Setelah petunjuk itu dilaksanakan, wabah pun hilang. Dalam pelaksanaannya, tradisi Ider Bumi melibatkan sederet sajian seni pertunjukan yang diwujudkan dalam arak-arakan.
Penentuan arak-arakan dimulai dari timur ke barat. Arak-arakan dilaksanakan biasanya saat tengah hari. Berangkat dari Rumah Barong dan berakhir di tempat pelaksanaan selamatan.
Adapun urutan peserta arak-arakan biasanya diawali dua orang yang membawa umbul-umbul khas kemiren. Kemudian sekelompok Kesenian Barong diawali sepasang penari Macan-macanan.
Setelah itu disusul Pitik-pitikan dan diikuti dibelakangnya oleh penampilan barong yang menari sambil berjalan. Urutan selanjutnya di ikuti oleh seorang pemuka adat yang menabur sesajen.
Selanjutnya ada ibu-ibu menggendong Bokor Kuningan Sesaji. Kemudian Pembawa Tumpeng, Kelompok Jaran Kecak, Kelompok Musik Rebana, Kelompok Aparat Desa.
Arak-arakan tersebut diakhiri dengan diadakannya selamatan diatas gelaran tikar. Dimulai dengan pembacaan doa dalam bahasa Osing dan Arab. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama dengan menu khas Osing yakni Pecel Pithik. (*)
Editor : Niklaas Andries