Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketupat sebagai Simbolisasi Perayaan Lebaran, Ini Makna yang Terkandung Didalamnya

Niklaas Andries • Selasa, 9 April 2024 | 17:37 WIB

LESEH: Pedagang menyelesaikan pembuatan kulit ketupat di area pasar Banyuwangi menjelang lebaran
LESEH: Pedagang menyelesaikan pembuatan kulit ketupat di area pasar Banyuwangi menjelang lebaran
Radarbanyuwangi.id – Ketupat menjadi simbolisasi perayaan lebaran. Hidangan yang biasa disandingkan dengan opor ayam, gulai hingga kare ayam ini kerap menghiasi sajian meja makan saat Hari Raya Idul Fitri tiba.

Yang menjadi khas daripada ketupat ini adalah bentuknya. Persegi dan dibungkus menggunakan daun kelapa muda alias janus. Lebih dari sekadar hidangan hari raya, ketupat beragam makna dibalik kehadirannya itu.

Dilansir Jawa Pos, kata "ketupat" atau "kupat" memiliki asal-usul dari bahasa Jawa yaitu "ngaku lepat", yang artinya "mengakui kesalahan". Makna ketupat bisa diartikan, sesama muslim diharapkan untuk mengakui kesalahan, saling memaafkan, dan melupakan kesalahan tersebut.

Sedangkan bungkus ketupat yang terbuat dari janur kuning melambangkan penolak bala bagi masyarakat Jawa. Bentuk ketupat yang bersegi empat mencerminkan prinsip "kiblat papat lima pancer.”

Ini mengandung mengandung makna bahwa manusia, di mana pun mereka berada, akan selalu kembali kepada Allah SWT. Anyaman bungkus ketupat juga unit.

Bentuk dan susunannya yang rumit mencerminkan beragam kesalahan yang dilakukan manusia.

Sedangkan, warna putih ketupat ketika dibelah dua menggambarkan kebersihan dan kesucian setelah memohon ampunan atas kesalahan yang telah dilakukan.

Beras sebagai isi ketupat diharapkan menjadi lambang kemakmuran setelah perayaan Hari Raya.

Umumnya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ternyata, ada makna filosofisnya juga yang terkandung di balik kombinasi ini.

Opor ayam mengandalkan santan sebagai salah satu komponennya. Santan, dalam bahasa Jawa dikenal sebagai santen, memiliki arti "pangapunten", yang berarti memohon maaf.

Menurut H.J. de Graaf dalam Malay Annal, yang dikutip oleh Historia, pada masa pemerintahan Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah pada abad ke-15, ketupat dianggap sebagai simbol perayaan Hari Raya Islam.

Bungkus ketupat yang terbuat dari janur digunakan untuk mencerminkan identitas masyarakat pesisir yang didominasi oleh pertumbuhan pohon kelapa atau nyiur.

Masyarakat pesisir, yang sering kali identik dengan makanan khas yang dibungkus dengan janur, karena lingkungannya di pinggir pantai yang dikelilingi oleh pohon kelapa.

Kemudian hal tersebut yang menginspirasi Sunan Kalijaga untuk menggunakan ketupat sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Islam.

Penggunaan ketupat sebagai simbol perayaan lebaran semakin menyebar di kalangan umat Islam ketika Sunan Kalijaga mengangkatnya sebagai simbol khas perayaan Lebaran.

Tradisi ini dirayakan pada tanggal 8 Syawal, yaitu seminggu setelah lebaran dan setelah puasa enam hari Syawal.

Ketupat juga telah lama dikenal di berbagai daerah di Indonesia. Ini terlihat dari berbagai makanan khas daerah yang memasukkan ketupat sebagai bagian dari hidangannya.

Contohnya adalah kupat tahu (Sunda), kupat glabed (Tegal), Coto Makassar, ketupat sayur (Padang), Sate Padang, Laksa (Cibinong), doclang (Cirebon), gado-gado, sate ayam, dan kadang-kadang disajikan dengan bakso.

Hingga kini, masyarakat di keraton Ubud, Bali juga masih menjaga tradisi menyajikan ketupat dalam setiap upacaranya.

Dengan demikian, ketupat sebagai makanan khas Nusantara masih menjadi bagian dari upacara-upacara keagamaan yang tidak hanya diadakan oleh masyarakat muslim. Tetapi juga masyarakat Hindu dan masyarakat yang mempraktikkan kepercayaan-kepercayaan lokal.

Editor : Niklaas Andries
#pohon kelapa #ketupat #lebaran #opor ayam #gulai #idul fitri #Raden Patah #Kerajaan Demak #kare ayam