Setiap mendekati Lebaran, lapak penjual kembang api dadakan kerap muncul di pinggir jalan. Pedagang dari beberapa daerah itu menjual beragam jenis kembang api.
Yang paling umum dijual, tentu kembang api klasik atau sparklers. Kembang api ini memang menjadi kembang api yang terbilang paling aman, khususnya anak-anak.
Kembang api sparklers adalah jenis kembang api yang menggunakan tongkat kecil, dengan percikan cahaya yang terus-menerus. Cipratan kembang api yang jangkauannya tidak luas. Serta tidak menimbulkan ledakan. Ini menjadi alasan larisnya kembang api jenis ini.
Bagi anak sekolah dasar kisaran usia 10 tahun ke bawah, kembang api jenis ini menjadi yang lebih nyaman dimainkan. Anak-anak tinggal memegang tongkat kembang api yang sudah dibakar hingga habis.
Karena banyak digandrungi anak-anak, tak heran kembang api ini dibanderol murah. Satu pak berisi 10 biji dihargai Rp 12.500 hingga Rp 24 ribu.
"Yang beli rata-rata anak-anak. Dan jenis itu (sparklers) yang paling banyak dibeli," kata Roni Adi Santoso, 34, pedagang kembang api di Dusun Klontang, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, Banyuwangi.
Menurut Roni, petasan-petasan yang menimbulkan suara ledakan dan akan meledak di udara, sudah berkurang peminatnya.
"Karena rata-rata ukurannya besar, jadi peminatnya justru sedikit. Pelanggan jualan seperti saat ini kebanyakan anak-anak," cetusnya.
Roni menyebut, omzet jualan kembang api belum terlalu banyak. Pasalnya, Idul Fitri mendatang masih menyisakan hari yang lama.
"Ramainya kan mendekati Lebaran. Kalau sekarang, sehari dapat uang Rp 150 ribu sudah bagus," tandasnya. (sas/bay)
Editor : Niklaas Andries