Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sejarah Kembang Api, Warisan Akulturasi Budaya Eropa dan Tiongkok

Niklaas Andries • Minggu, 31 Maret 2024 | 15:05 WIB

SEJARAH PANJANG: Kembang api disukai kalangan anak-anak hingga orang dewasa
SEJARAH PANJANG: Kembang api disukai kalangan anak-anak hingga orang dewasa
Radarbanyuwangi.id - Siapa yang tak tahu dengan kembang api. Tahukah Anda, kembang api awalnya berkembang dari Tiongkok sekitar abad kedua sebelum Masehi.

Ketertarikan orang memainkan kembang api karena faktor bunyi letusan dan cahaya berwarna-warni. Saat digunakan, kembang bisa memunculkan efek  suara, cahaya, asap, dan bahan yang bisa terbang ke angkasa.

Bahkan sejumlah kembang api memiiki suara yang lebih keras saat diluncurkan.

Kembang api memiliki kandungan komponen kimia berdasarkan logam dan efek warna indah yang digunakan. Bahan dan unsur kimia itu diantaranya Strontium yang memunculkan warna merah, Kalsium untuk warna oranye, Barium warna hijau, Natrium warna kuning, Tembaga warna biru, Strontium/Tembaga warna ungu, dan Titanium warna putih.

Awal mulanya berkembang di Tiongkok, kembang api digunakan sebagai ritual tradisi seperti mengusir roh jahat, perkawinan, hingga kelahiran. Bentuk kembang api pun sederhana.

Menggunakan batang bambu diisi bubuk mesiu dan dipanggang sampai menghitam. Bubuk mesiu ini dibuat dari bahan arang, belerang, dan kalium. Dari proses itu kemudian muncul ledakan.

Intensitas hubungan dagang Tiongkok dengan sejumlah negara Eropa ini menjadi awal perkembangan kembang api. Mesiu mulai dikenal penduduk belahan dunia barat. Tidak hanya kembang api, bubuk hitam ini juga mulai dikembangkan menjadi senjata api. Bahkan konon, tahun 1295, Marco Polo membawa kembang api ke Eropa dari Asia.

Di Indonesia, kembang api masuk diperkirakan juga dari hubungan dagang Tiongkok dan pedagang Nusantara. Bahkan konon penggunaan petasan juga dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Saat itu teknologi senjata bubuk mesiu telah diintroduksi dan dianggap sebagai bagian dari ritual keagamaan dan upacara adat.

Sementara di Jawa, petasan digunakan dalam upacara selamatan dan pengobatan tradisional.  Namun barulah saat masuknya kolonialisme Belanda kembang api ini mulai benar-benat dikenal luas.

Awalnya, setiap mendekati tanggal 31 Agustus jumlah petasan meningkat, karena pada momen itu kembang api digunakan sebagai media memperingati ulang tahun Ratu Belanda.

Namun, setelah kemerdekaan, penggunaan petasan semakin berkembang. Petasan mulai dijadikan sebagai hiburan dan atraksi berbagai acara seperti pernikahan, ulang tahun, serta Ramadan dan Lebaran.

Dari sini kemudian, tradisi memainkan kembang api dalam berbagai momen perayaan mulai dikenal oleh masyarakat di Indonesia. Momen Tahun Baru, Perayaan Imlek, hingga Idul Fitri kemudian diikuti masyarakat dengan menyalakan kembang api.

Bagi sebagian orang, perang petasan adalah cara untuk menghibur diri sendiri dan merayakan momen Lebaran bersama keluarga dan teman-teman. Contohnya perang kembang api dan petasan di Sungai Melawi, Kalimantan Barat.

Momen ini merupakan tradisi yang dinantikan oleh masyarakat saat perayaan Idul Fitri. Meskipun kontroversial karena risiko keamanan yang tinggi, tradisi ini merupakan bagian dari perayaan Lebaran.

Tradisi ini bermula dari kebiasaan warga sekitar untuk menyalakan kembang api dan petasan saat malam takbiran, kemudian menjadi terorganisir dengan adanya perlombaan antar kampung.

Contoh lainnya yakni meriam karbit yang menjadi tradisi menyambut Idul fitri di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.. Tradisi ini bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Gambaran ini setidaknya menjadi sebuah gambaran keberadaan kembang api di Indonesia dalam berbagai momen perayaan di Indonesia merupakan percampuran budaya antara Timur yaitu dari Tiongkok dan Eropa dalam hal ini Belanda. (nic/bay)

 

 

 

Editor : Niklaas Andries
#kerajaan majapahit #kolonialisme #jawa #bubuk mesiu #belerang #pontianak #tiongkok #Imlek #kementrian pendidikan dan kebudayaan #idul fitri #arang #ritual keagamaan #RI #Kembang Api #kalium #belanda #takbiran #upacara adat #pengobatan tradisional