Temuan artefak yang ada, tentu saja bisa dilihat dan dipelajari secara langsung.
Ini karena artefak yang berupa benda-benda kuno, bahkan juga ada berwujud fosil tulang manusia dan hewan purba.
Ketika ekskavasi, biasanya artefak berupa fosil yang sudah membatu tersebut akan dipajang di dalam museum.
Ini untuk kebutuhan pameran, hingga kepentingan edukasi mengenai sejarah temuan benda tersebut.
Sementara di Banyuwangi, ada satu tempat yang punya ribuan koleksi benda artefak. Tempat tersebut bernama Omahseum di Jalan Widuri Banyuwangi.
Di lokasi tersebut, juga ada koleksi fosil alias sisa tulang belulang binatang atau sisa tumbuhan zaman purba yang telah membatu. Fosil tersebut sangat lama tertanam di bawah lapisan tanah.
Salah satu yang masih bisa dilihat adalah fosil rahang gajah purba atau Stegodon.
Fosil rahang gajah purba itu dipajang di sebuah kotak kaca di salah satu sudut Omahseum. “Ini ditemukan di Mojokerto,” ujar penggagas sekaligus pendiri Omahseum, Thomas Racharto.
Thomas mengungkapkan rahang Stegodon itu mulanya ditemukan oleh para penambang pasir berada di timbunan pasir.
“Fosil rahang gajah tersebut kemudian sampai di Banyuwangi. Saat saya tahu ada informasi barang tersebut, langsung berupaya membelinya saat itu,” kenangnya.
Menurut Thomas, stegodon ditaksir pernah hidup jutaan tahun silam.
Dan itu membuktikan kekayaan sejarah di Indonesia. “Meski tidak lengkap, saya harap ini bisa jadi edukasi bagi banyak orang,” tuturnya. (sas/bay)
Editor : Niklaas Andries