Radarbanyuwangi.id - Temuan artefak berupa sisa-sisa peradaban manusia di suatu daerah, bukan sekadar kumpulan barang kuno. Di Banyuwangi, masih sering ditemukan artefak alat kerja masyarakat kuno di bidang pertanian.
Artefak memang bisa jadi jendela berharga, yang memberikan wawasan baru tentang peradaban yang pernah berkembang di suatu daerah.
Artefak berupa perabotan rumah tangga zaman dahulu, serta alat-alat pertanian tak jarang ditemukan oleh arkeolog atau pihak-pihak yang melakukan pembukaan lahan.
Temuan itu kemudian menjadi sumber pengetahuan berharga bagi para sejarawan dan arkeolog untuk memahami bagaimana nenek moyang kita hidup, bekerja, dan berinteraksi.
Temuan semacam ini selanjutnya harus direkonstruksi cerita yang tersembunyi di baliknya.
Melalui analisis cermat, artefak itu harus bisa dikaitkan dengan praktik budaya atau cara hidup peradaban sebelumnya.
Di Banyuwangi, temuan alat pertanian dan perabotan rumah tangga juga cukup sering terjadi. Alat-alat seperti wedung, sabit, sawur, hingga singkal untuk mengolah tanah banyak ditemukan.
“Alat-alat itu menunjukkan seperti apa barang-barang yang digunakan orang zaman dahulu,” kata penggagas sekaligus pendiri Omahseum, Thomas Racharto.
Menurut Thomas, temuan-temuan serupa banyak didapat dari sekitar Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, wilayah Kecamatan Srono, Kecamatan Sempu, hingga Kecamatan Singojuruh.
“Ini sisa-sisa peradaban pada abad ke 14,” tuturnya.
Tak hanya sampai situ, temuan-temuan yang didapat dari rekanan itu, kemudian ditata di kotak kaca untuk dipamerkan di Omahseum.
Inilah yang kemudian dijadikan bahan edukasi bagi masyarakat. “Saya yakin, di lokasi-lokasi itu masih banyak ditemukan artefak seperti ini,” tandasnya. (sas/bay)
Editor : Niklaas Andries