Banyak peninggalan bersejarah di tempat itu. Salah satunya adalah bekas fondasi tembok istana.
Berbagai peninggalan seperti sisa-sisa permukiman pada masa lampau, masih bisa ditemui di dua desa di Kecamatan Muncar. Yakni Desa Tembokrejo dan Desa Blambangan.
Bahkan, fondasi tembok benteng yang diperkirakan membatasi wilayah dalam dan luar istana masih berdiri kokoh di dua wilayah desa itu.
Fondasi bekas tembok benteng istana itu masih bisa dilihat di tengah permukiman warga Dusun Sukosari, Desa Blambangan.
Fondasi benteng itu terbuat dari bata berukuran besar. Ukuran bata itu tidak biasa. Tidak seperti ukuran yang lazim dijumpai masa kini.
Benteng yang membatasi wilayah dalam dan luar pusat pemerintahan Kerajaan Blambangan itu memanjang sekitar dua kilometer.
Mulai dari areal persawahan di Desa Blambangan, mengikuti tepi sungai hingga berakhir di Sitinggil, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.
Misdi, 57, warga Desa Blambangan menyebutkan, dahulu bata sisa benteng itu masih terawat hingga sekitar tahun 1970-an.
Namun kemudian, bata itu diambil warga untuk diolah kembali menjadi bata dan dijual. “Akhirnya sekarang yang terlihat hanya sisa fondasi saja,” ungkap Misdi.
Akibat penggalian besar-besaran dan menjadi bahan baku bata untuk dijual, beberapa sisa fondasi tembok akhirnya menghilang dan hanya menyisakan sedikit.
“Yang tersisa dan masih bisa dilihat di sini (Desa Blambangan),” imbuh Misdi.
Sementara di dekat sisa fondasi tembok benteng itu, kini sudah diberi tulisan Potensi Cagar Budaya oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banyuwangi.
Dengan papan tulisan tersebut, diharapkan sudah tidak ada lagi masyarakat yang memanfaatkan sisa peninggalan sejarah itu untuk tujuan lain. “Hanya ini yang tersisa untuk diceritakan ke anak cucu,” kata Misdi. (gas/bay)
Editor : Niklaas Andries