Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Menikmati Keindahan dan Meneropong Sejarah Blambangan dari Omahseum di Kelurahan Banjarsari Banyuwangi, Ini Isi Didalamnya

Ayu Lestari • Rabu, 13 Maret 2024 | 21:03 WIB
BERNILAI SEJARAH: Thomas Racharto (kiri) menunjukkan salah satu patung koleksi Omahesum kepada Ketua DKB Hasan Basri (tengah) dan Dewan Pengarah DKB Samsudin Adlawi (kanan).
BERNILAI SEJARAH: Thomas Racharto (kiri) menunjukkan salah satu patung koleksi Omahesum kepada Ketua DKB Hasan Basri (tengah) dan Dewan Pengarah DKB Samsudin Adlawi (kanan).

Radarbanyuwangi.id - Omahseum tak hanya menawarkan pengetahuan.

Lebih dari itu, dengan mengunjungi destinasi wisata edukasi yang satu ini, masyarakat berkesempatan menjelajahi warisan sejarah Banyuwangi.

Omahseum. Mungkin nama destinasi yang berlokasi di Jalan Widuri Nomor 21, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, tersebut masih asing bagi Anda.

Namun siapa sangka, di tempat ini terdapar hampir 2 ribu artefak, mulai lokal hingga mancanegara.

Sang penggagas sekaligus pendiri Omahseum, Thomas Racharto, sengaja menyulap kediaman pribadinya—tepatnya seluruh ruangan di lantai dua rumahnya— menjadi galeri yang diisi berbagai jenis koleksi.

Selain karena hobi, dia ingin Omahseum menjadi salah satu wahana edukasi sejarah di Bumi Blambangan.

”Tiap susunan boks kaca berisi berbagai macam barang. Mulai dari uang koin lawas, piring keramik, perunggu, karduluk tiga dimensi, alat kesenian seperti bendik, saron, kendreng, hingga fosil geraham gajah yang usianya mencapai 1,8 juta tahun lalu,” ujar Thomas.

Thomas menuturkan, Omahseum merupakan wujud rasa senang dan kecintaannya mengoleksi dan mempelajari benda bersejarah.

Oleh karena itu, dia juga berniat menjadikan Omahseum menjadi sarana edukasi masyarakat.

Menurut Thomas, artefak yang ada bisa saja dijualnya untuk menghasilkan rupiah.

Namun, yang lebih penting baginya, masyarakat dapat melihat berbagai macam koleksi tersebut sehingga mendapat tambahan pengetahuan sekaligus mempelajari nilai historis.

”Saya mengumpulkan temuan artefak ini mulai tahun 1970-an. Benda lokal paling banyak saya dapatkan dari Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar dan di perkebunan Malangsari, Desa Kebunrejo, Kecamatan Kalibaru,” tutur pria berusia 80 tahun itu.

Thomas menjelaskan, berbagai koleksi artefak lain masa Blambangan kuno seperti lingga, kendi, manik-manik, koleksi kitab kuno, benda-benda magis kuno seperti keris, pedang, sampai bambu caruk yang terkenal di Banyuwangi juga turut memenuhi isi ruangannya.

Tidak hanya itu, salah satu koleksi terlama benda bersejarah yang dimiliki Thomas berupa koin dari Dinasti Tang abad IX yang tertata rapi dalam etalase kaca Omahseum.

Bahkan, piring porselen dari Tiongkok, koin asal Jepang, hingga benda antik asal Eropa pun masih menjadi koleksinya hingga saat ini.

”Setiap artefak punya keindahan dan cerita tersendiri. Bisa dilihat dari bahan, jenis ukiran, cara pembuatan, bentuk karya, hingga tempat ditemukan. Hal ini bisa jadi data untuk sebuah rekontruksi sejarah,” jelas Thomas.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri menambahkan, keberadaan Omahseum bisa menyokong Museum Blambangan di Banyuwangi.

Dengan adanya dua museum tersebut, diharapkan masyarakat dapat menemukan media pembelajaran yang jauh lebih otentik.

”Semoga museum yang akan dibuka pada akhir Maret ini dapat menjadi salah satu tujuan edukasi wisata pilihan yang menambah wawasan dan memberikan ilmu tambahan bagi pengunjung,” tandasnya. (sgt/c1)

Editor : Niklaas Andries
#blambangan #otentik #museum #Bumi Blambangan #dkb #tiongkok #Warisan Sejarah #Destinasi Wisata #dewan kesenian blambangan #sarana edukasi #Banjarsari #banyuwangi #dinasti tang #koin #glagah #Artefak #edukasi