Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Resik Lawon, Simbol Membersihkan Hati dan Jiwa

Niklaas Andries • Minggu, 10 Maret 2024 | 16:45 WIB

BERSIH-BERSIH: Warga memeras air cucian kain lawon di Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Banyuwangi.
BERSIH-BERSIH: Warga memeras air cucian kain lawon di Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Banyuwangi.
Radarbanyuwangi.id - Di Lingkungan Cungking, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Banyuwangi, ada tradisi khas menjelang datangnya bulan Ramadan.

Masyarakat setempat punya tradisi yang disebut dengan ritual Resik Lawon.

Kegiatan ini digelar menjelang Ramadan. Karena tradisi ini sedianya memang dilaksanakan pada bulan Syaban atau Ruwah menurut kalender Jawa.

Ritual ini dilaksanakan di Petilasan Sesepuh masyarakat Osing yang dikenal dengan Buyut Cungking. Karena itu, ritual Resik Lawon diiskuti khususnya oleh keturunan dari abdi dalem Buyut Cungking.

Ritual ini dipercaya sudah dilakukan turun temurun sejak ratusan tahun lalu. Tujuan utamanya bermuara pada satu, membersihkan diri jelang datangnya bulan Ramadan.

Ritual ini dilaksanakan dengan membersihkan petilasan Ki Buyut Cungking dari debu dan kotoran.

Mereka kemudian melepas kain putih yang menutup cungkup dan selambu makam.

Kain-kain berwarna putih itu kemudian dilipat untuk dicuci di Dam Krambatan, Banyu Gulung, yang berada di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah.

Jaraknya  lebih kurang 3 Kilometer dari makam Buyut Cungking.

Lawon itu kemudian dimasukkan ke dalam besek. Mereka yang nota bene berstatus keturunan abdi dalem memikul lawon yang diikat dengan tali dan kayu menuju dam dengan berjalan kaki.

Tiba di sungai, kain putih langsung digelar dan dicuci bersama-sama. Disinilah ritual ini begitu menarik animo masyarakat.

Percaya khasiat bekas cucian dan perasan lawon membuat masyarakat berebut mendapatkan air itu.

Ada yang percaya bila air itu mengandung berkah dan khasiat seperti mengilangkan penyakit. Bila ditebar di sawah, bisa membuat sawah subur dan keyakinan lainnya.

Setelah lawon dicuci, warga kembali membawanya ke balai tajuk yang ada di Lingkungan Cungking. Di sana, kain kembali dibilas dengan air bersih yang sudah ditaburi bunga tujuh rupa.

Semua prosesi ritual dilakukan oleh laki-laki, sedangkan perempuan menyiapkan makanan untuk disajikan kepada tamu-tamu yang datang ke balai tajuk. 

Setelah dibilas, kain putih dijemur di tengah jalan desa. Tali tambang diikat dengan bambu yang menjulang di ketinggian empat meter.

Bagian ini merupakan puncak dari ritual resik lawon sebelum kain-kain putih itu nantinya kembali di pasang di petilasan. Selama dijemur, kain putih itu tidak boleh jatuh dan terkena tanah.  

Ritual ini begitu sakral bagi masyarakat Cungking karena ada nilai kebersamaan dan gotong royong didalamnya. Niat utamanya selain nguri-uri juga untuk bersih-bersih. Membersihkan hati dan semua jiwa, termasuk jiwa leluhur. (nic/bay)

 

Editor : Niklaas Andries
#osing #Resik #tradisi #Lingkungan #petilasan #kecamatan #buyut #kelurahan #banyuwangi