Sesepuh Umat Hindu Dusun Sumberejo, Desa Jambewangi, Tejo Dwi Saputra, 62, mengatakan pawai ogoh-ogoh tahun ini yang kali kedua pasca pandemi Covid-19.
Untuk pembuatan ogoh-ogoh, diserahkan pada anak muda. “Para orang tua hanya melihat dan memberikan spirit,” ujarnya.
Tahun 2024 ini, terang dia, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Sempu menyiapkan empat ogoh-ogoh dalam memeriahkan Hari Raya Nyepi.
Keempat ogoh-ogoh itu dinilai lebih berwarna dibanding tahun sebelumnya.
“Karena yang membuat generasi muda, jadi kesannya lebih mengikuti perkembangan, terutama sejumlah karakter yang lebih menarik masyarakat,” katanya.
Menurut Tejo, ogoh-ogoh itu bentuk penggambaran sifat negatif manusia.
Dia berharap, setelah Nyepi masyarakat dapat membuang seluruh sifat buruk dan kembali menjadi insan yang bersih.
“Ogo-ogo ini menjadi penggambaran sifat jelek yang dimiliki manusia, meninggalkan sifat negatif dan membawa hati yang suci,” terangnya.
Persiapan pembuatan ogoh-ogoh sudah dilakukan selama satu bulan.
Hingga Jumat (1/3), persiapan mencapai 70 persen dengan dibantu Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Pradah Indonesia) dan Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI).
“Ibu-ibu ketagihan ingin memikul juga, karena tahun lalu ikut memikul. Untuk tema mengikuti perkembangan anak muda yang menjadi kreasi anak muda,” katanya.
Salah satu yang unik dari ogoh-ogoh tahun ini, jelas dia, karakter yang cukup kekinian.
Ogoh-ogoh dengan tangan membentuk simbol saranghae yang sudah dikenal generasi milenial.
“Salah satu fenomena yang sedang tren di masyarakat itu simbol saranghae dan selfie.
Itu yang ingin kami tunjukkan sebagai bentuk sifat manusia,” kata creator ogoh-ogoh Andik Kurniawan, 33.
Andik berharap pawai ogoh-ogoh tahun 2024 ini berjalan dengan lancar, setelah vakum beberapa tahun akibat pandemi Covid-19.
“Semoga lancar karena dibantu oleh berbagai pihak,” pungkasnya.(rei/abi)
Editor : Niklaas Andries