Radarbanyuwangi.id - Pelajar di Banyuwangi ini mampu membiayai sekolahnya dari menari. Dia adalah Edo Febriyantosyah.
Warga Lingkungan Lalangan, Desa Rejosari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, ini awalnya hanya menjadikan tari sekadar sebagai hobi.
Siapa sangka hobi menarinya itu justru menghasilkan uang yang lumayan baginya.
Siswa kelas 12 IPS 1 SMAN 1 Glagah, Banyuwangi ini memang memiliki hobi di bidang kesenian sejak kecil.
Sejak masih anak-anak, Edo sudah mulai belajar tarian dan memainkan musik tradisional atau gamelan.
Tak tanggung-tanggung, cowok kelahiran Banyuwangi, pada tanggal 24 Maret 2006 ini sudah melakoni dunia seni tari dan gamelan selama 15 tahun.
“Mulai umur 4 tahun, saya sudah berkecimpung di dunia seni tari dan bermain musik tradisional,” tutur anak pertama dari 2 bersaudara itu.
Berkat telaten belajar seni tari dan gamelan sejak kecil itu, Edo kini sering tampil di acara orang hajatan di seantero Banyuwangi.
Bahkan, dia pernah mewakili Kabupaten Banyuwangi dalam Festival Blitar Etnik Nasional (BEN) di Blitar, Jawa Timur.
Paling jauh, Edo pernah tampil main janger di Jember, Jawa Timur.
Talentanya luar biasa di bidang kesenian tradisional Banyuwangi, sehingga bisa memainkan banyak peran.
Edo mampu bermain kesenian janger, jaranan, barong, kuntulan, bahkan juga memainkan gamelan.
Di kesenian jaranan, Edo bisa berperan menjadi wayang, jaranan, penari, bahkan dalang.
“Kalau di kesenian janger, saya berperan sebagai Bambangan atau prajurit Mojopahit,” kata Edo.
Untuk menjaga kebugaran tubuhnya, Edo rajin berolahraga setiap hari. Salah satu olahraga favoritnya adalah bermain bola voli.
Dari kesenian tradisional yang Edo lakoni itu telah menghasilkan pendapatan yang lumayan bagi remaja seusianya.
Kata Edo, awal mendapatkan honor dari jaranan pada umur 11 tahun, yang saat itu nilainya hanya Rp 7.000 sekali main.
Kemudian pada usia 12 tahun, Edo mengaku mulai meningkat nilai honornya hingga mencapai Rp 300 ribu sekali main.
“Honor saya untuk keperluan sekolah, sangu sekolah, dan keperluan saya. Sebagian untuk orang tua,” ungkap Edo.
Bagaimana Edo membagi waktu untuk belajar dan sekolah dengan jadwal bermain janger dan jaranan?
Menurut Edo, dia berusaha mengatur waktu manggung dan jam sekolah. Dia bagi antara 40 persen tampil di hajatan dan 60 persen sekolah.
“Intinya harus bisa mengimbangi belajar, jangan sampai belajar saya terganggu dengan hobi saya,” ujarnya.
Harapan Edo untuk pengembangan kesenian tradisional di Banyuwangi, agar para pemuda terus menjaga budaya lokal tersebut.
“Ayolah kita jaga kesenian budaya nenek moyang kita ini, jangan sampai budaya kita ini dimasuki budaya luar,” serunya.
Karena apa? Menurut Edo, nenek moyang kita sudah menciptakan untuk kita sendiri.
“Jadi marilah kita jaga budaya kita ini,” ajak pelajar yang bercita-cita menjadi guru budaya, karena ingin mengabdi untuk mengembangkan budaya dan menjaga warisan nenek moyang itu.
“Saya hanyalah seorang pelajar, yang ingin kesenian budaya Banyuwangi semakin berkembang meluas,” pungkas Edo. (*)
Editor : Ali Sodiqin