Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengenang Pahlawan Perang Puputan Bayu, Ada yang Gelar Doa Bersama dan Tabur Dawet di Telaga Rowo Bayu

Dedy Jumhardiyanto • Minggu, 17 Desember 2023 | 17:00 WIB
PERNAH DISINGGAHI: Kompleks petilasan tempat bertapanya Prabu Tawang Alun di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.
PERNAH DISINGGAHI: Kompleks petilasan tempat bertapanya Prabu Tawang Alun di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id – Banyak cara dilakukan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah bertempur pada Perang Puputan Bayu tahun 1771–1772.

Seperti tradisi warga Desa Bayu yang menggelar tasyakuran, doa bersama, serta menebar dawet di telaga Rowo Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Ratusan warga antusias mengikuti doa bersama secara khidmat. Selain itu, dalam acara tersebut juga dibacakan sinopsis Perang Puputan Bayu dalam bahasa Oseng.

Diakhiri acara seluruh warga melarung dawet ke telaga Rowo Bayu. Ini sebagai pertanda ucapan syukur pada Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba).

”Doa bersama malam renungan suci ini untuk mengenang jasa pahlawan leluhur yang gugur dalam Perang Puputan Bayu,” ungkap Idris, warga Desa Bayu.

Pelaksanaan malam renungan suci tersebut rutin diselenggarakan di Rowo Bayu setiap tahun menjelang peringatan Harjaba.

Yakni pada 16 malam 17 Desember setiap tahun. Selain mendoakan para pahlawan yang telah berjuang, warga juga mendoakan supaya Banyuwangi maju dan sejahtera. Masyarakatnya diberikan kesehatan, keberkahan, rukun, dan damai.

Pemilihan Rowo Bayu sebagai tempat doa bersama karena pada rentang waktu 1771–1772, kawasan tersebut menjadi saksi bisu kegigihan rakyat Blambangan yang dipimpin Pangeran Rempeg Jogopati, Patih Jaga Lara, dan Sayu Wiwit mempertahankan tanah air dari gempuran penjajah.

Bangsa Belanda meyakini perang ini sebagai perang yang paling kejam dan meminta banyak korban jiwa.

Dari rangkaian perjuangan itulah, lantas menjadi momentum hari lahirnya Banyuwangi. Tepatnya pada 18 Desember 1771, terjadi pertempuran besar antara rakyat Blambangan melawan penjajah VOC Belanda.

Peristiwa heroik itulah yang dijadikan momentum Harjaba. Selanjutnya, DPRD Banyuwangi pada sidang tanggal 9 Mei 1995 secara aklamasi menetapkan tanggal 18 Desember sebagai Hari Jadi Banyuwangi.

Kegiatan tasyakuran dan doa bersama ini sudah digelar sejak zaman nenek moyang warga setempat.

Ini sebagai wujud rasa syukur warga yang masih hidup sebagai penyintas sejarah Perang Puputan Bayu tahun 1771. (ddy/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Selamatan #harjaba #songgon #Rowo Bayu #perang #Puputan Bayu #Hari Jadi #banyuwangi