Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tradisi Napak Tilas Harjaba, Kirab Pusaka Hingga Fragmen Perang Puputan Bayu

Dedy Jumhardiyanto • Minggu, 17 Desember 2023 | 15:30 WIB
SAKRAL: Sesepuh masyarakat mengusung ratusan pusaka Perang Puputan Bayu menuju Petilasan Prabu Tawang Alun di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.
SAKRAL: Sesepuh masyarakat mengusung ratusan pusaka Perang Puputan Bayu menuju Petilasan Prabu Tawang Alun di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id – Peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) selalu diperingati dengan khidmat oleh warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon.

Salah satu agenda rutin yang tak pernah dilewatkan yakni napak tilas Perang Puputan Bayu.

Bersamaan dengan acara itu pula, warga yang tinggal di lereng Gunung Raung ini menggelar kirab pusaka Perang Puputan Bayu dan kirab tumpeng hasil bumi.

Kirab pusaka dan hasil bumi sejauh 3 kilometer (km) itu dimulai dari Pasar Bayu menuju Wanawisata Rowo Bayu. Kegiatan itu mulai diselenggarakan sejak tahun 2015 lalu.

Hingga kini, tradisi napak tilas itu masih terus dilestarikan. Hal tersebut bertujuan untuk melestarikan pusaka warisan leluhur yang ada di Desa Bayu.

”Pusaka semuanya berjumlah ratusan, dan setahun sekali setiap Harjaba kita napak tilas dan dikirab menuju Petilasan Prabu Tawang Alun di Rowo Bayu,” ungkap Hasan, tokoh pemuda Desa Bayu.

Sesampainya di Petilasan Prabu Tawang Alun atau kawasan Wanawisata Rowo Bayu, ratusan pusaka leluhur mulai keris, tombak, dan sejenisnya itu dimandikan dengan air kembang.

Fragmen atau pertunjukan drama kolosal Perang Puputan Bayu. Drama ini diperankan oleh warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon.
Fragmen atau pertunjukan drama kolosal Perang Puputan Bayu. Drama ini diperankan oleh warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon.

Selanjutnya, pusaka tersebut kembali dimasukkan ke dalam kotak peti senjata dan kembali disimpan.

”Kami meyakini, jika pusaka ini merupakan warisan leluhur turun temurun, yang sebagian pernah digunakan untuk Perang Puputan Bayu,” jelas Hasan.

Tidak hanya kirab pusaka Perang Puputan Bayu, dalam kesempatan ini juga digelar fragmen atau pertunjukan drama kolosal Perang Puputan Bayu. Drama ini diperankan oleh warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon.

Drama kolosal tersebut juga menjadi bagian untuk kembali mengingat serta merenung akan sejarah yang pernah terjadi pada tahun 1771–1772 silam.

Pada masa itu, Perang Puputan Bayu merupakan perang besar. Perang ini dianggap sebagai perang yang paling kejam. Dengan menewaskan banyak korban jiwa.

Orang Blambangan yang tak rela tanahnya diinjak-injak penjajah, berbekal pedang dan tombak di tangan, berusaha mempertahankan wilayahnya sekuat tenaga.

”Kalau ada fragmen adegan, minimal anak-anak akan mengetahui akan sejarah Perang Puputan Bayu,” pungkas Hasan. (ddy/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#harjaba #warisan #tradisi #songgon #fragmen #perang #kirab #Bayu #Hari Jadi #banyuwangi