RadarBanyuwangi.id – Festival Kuwung merupakan salah satu event festival tertua di Banyuwangi. Namun sejak pandemi melanda, pawai pelangi budaya tersebut ditiadakan.
Festival ini digelar untuk menampilkan beragam adat Banyuwangi dalam sebuah parade seni budaya. Sesuai namanya ”Kuwung”, yang bermakna ’pelangi’ dalam bahasa setempat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Muhammad Yanuarto Bramuda mengungkapkan, Festival Kuwung biasanya digelar pada malam hari.
Festival ini akan menjadikan suasana malam di Banyuwangi bagaikan bertabur warna pelangi.
Festival Kuwung diisi dengan berbagai kesenian daerah. Para talent yang tampil mengenakan kostum beraneka warna.
Selain itu, sebagai pelengkap berbagai alat musik tradisional Banyuwangi juga dihadirkan untuk mengiringi para talent menari.
Pawai ini menampilkan suguhan sesuai dengan tema yang diusung menggunakan properti pendukung seperti lampu hias warna-warni.
”Segala potensi seni dan budaya di Banyuwangi ditampilkan dalam bentuk tarian dan fragmen. Biasanya pengisi acara dibagi menjadi kelompok, agar lebih terstruktur dan menghasilkan tampilan yang indah,” ujar Bramuda.
Festival Kuwung adalah tampilan kebudayaan dan seni asli Banyuwangi. Selain menjadi pesta rakyat, kegiatan itu juga digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba).
Juga hadir sebagai wujud panggung eksistensi seni dan budaya asli Banyuwangi yang beragam untuk tetap lestari.
”Namun sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir Festival Kuwung dalam acara tahunan Harjaba tidak kami hadirkan. Ini karena kendala pandemi Covid-19. Tahun ini juga tidak ada, kami mengupayakan untuk tahun depan Festival Kuwung dapat diselenggarakan untuk semarak Harjaba 2024,” pungkas Bramuda. (tar/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin