GLAGAH, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Penelitian spesifik tentang siapa masyarakat adat osing selama ini belum pernah dilakukan secara gamblang.
Jumat (24/11) Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA) bersama PD Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Osing mengundang beberapa budayawan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dewan Kesenian Blambangan (DKB) untuk menyiapkan rencana pembuatan buku tentang identifikasi Masyarakat Adat Osing.
Mereka berkumpul di Pesinauan Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi untuk menemukan rumus paling tepat untuk mengidentifikasi masyarakat Osing. Berbagai masukan pun muncul dari mereka yang datang.
Mulai dari penentuan parameter untuk memastikan orang yang akan diidentifikasi benar-benar orang Osing. Apalagi, buku ini nanti akan lebih menitikan identifikasi yang dilakukan oleh masyarakat Osing itu sendiri. Bukan dari orang luar.
Direktur Eksekutif Arupa, Edi Suprapto mengatakan jika langkah pembuatan buku yang berisi identifikasi masyarakat Osing adalah hasil diskusinya dengan PD Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Osing. Buku itu nantinya diharapkan bisa menjadi penguatan perlindungan dan advokasi bagi masyarakat adat osing.
Karena itu pihaknya membutuhkan masukan termasuk data sebaran MA Osing. Dimana keberadaan mereka,data spasial, kordinat desa Osing yang nanti akan mereka dokumentasikan.
Termasuk, masukan dari beberapa tokoh adat, budayawan, dan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) untuk bisa mendapatkan data yang valid. Sekaligus memastikan parameter yang tepat sebelum mengambil sampel masyarakat adat Osing yang nantinya akan menjadi pengisi profik masyarakat osing yang akan mereka dokumentasikan.
"Target kita bisa selesai bulan Februari. Kita akan gali studi di sini. Masyarakat osing itu seperti apa, bahasa yang mereka gunakan, kita tidak berangkat dari teori masyarakat osing, tapi justru dari mereka (masyarakata Osing) sendiri,"terangnya.
Ketua DKB, Hasan Basri mengatakan jika hasil penelitian yang dilakukan ARuPA sangat penting untuk mengidentifikasi bagaimana sebenarnya masyarakat Osing. Bagaimana pandangan hidupnya , bagaimana kehidupan sosialnya, bagaimana ranah etos kerjanya.
Pengumpulan data menurutnya bisa juga mengumpulkan kekayaan pikiran orang osing, cerita lisan mereka dan norma hidup yang dianut orang osing sealma ini.
Hasil penelitian itu jika nanti sudah dibukukan, akan sangat penting untuk relevansi masyarakat osing ke depan. Selama ini, Hasan melihat tulisan tentang masyarakat osing masih dibuat terlepas. Seperti gandrung sebagai identitas, arsitektur, kemudian sejarah.
Sehingga dibutuhkan satu buku yang memang mengidentifikasi untuk memperjelas orang osing sebenarnya seperti apa.
"Kita harap penelitian bisa dilakukan secepatnya, efektifnya objek penelitian menyasar warga osing yang berusia 60 tahun ke atas. Jadi sebelum hilang,"kata Hasan.
Sementara itu, Sejarawan Banyuwangi, Suhalik,62 mengatakan yang membedakan masyarakat adat osing dengan suku lainya adalah identitas budaya. Bukan ras. Karena itu, cara mengidentifikasinya berupa bahasa, makanan, seni, arsitektur dan garis keturunan.
Istilah Osing sendiri menurutnya adalah panggilan yang disematkan oleh orang luar. Bukan oleh masyarakat asli Banyuwangi itu sendiri. karena mereka lebuh suka menyebut dirinya orang Blambangan.
"Sebutan Osing ini kan yang menyematkan orang luar. Sama seperti orang Bali Age, mereka sendiri menyebutnya Bali Mule, atau orang Sunda, yang sebenarnya mereka menyebut dirinya Parahyangan,"tegas Suhalik.
Dia pun meminta, penelitian itu nantinya jika memang dilakukan untuk mengidentifikasi masyarakat osing, pengambilan samplingnya harus menyebar.
Tidak hanya masyarakat yang tinggal di wilayah Banyuwangi kota dan Utara saja, tapi masyarakat yang tinggal di wilayah lain seperti Rogojampi, Songgon, Kabat, Genteng, Grajagan dan wilayah lainya.
"Orang Osing selama ini menjadi laboratorium sosial, bagaimana keegaliteran mereka. Mereka tidak pernah mempermasalahkan gender. Karena itu di sini banyak raja dan panglima yang perempuan. Itu sudah biasa,"tutupnya.(fre)
Editor : Fredy Rizki Manunggal