RadarBanyuwangi.id – Memperingati Dino Dadine Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tak hanya dimeriahkan Festival Ngopi Sepuluh Ewu.
Pihak Desa Kemiren bersama Sanggar Genjah Arum milik Setiawan Subekti menginisiasi lomba stan kopi terbaik.
Selain itu juga digelar lomba foto dengan obyek stan kopi dan acara selamatan Hari Jadi Kemiren.
Dari sekitar 200 stan, juri memilih sepuluh stan terbaik yang nantinya dapat uang pembinaan dari panitia.
Juri melakukan penjurian dengan menyamar sebagai pengunjung. Masing-masing stan dari ujung barat sampai timur didatangi. Juri juga meminta testimoni pengunjung setelah menikmati sajian di masing-masing stan.
“Ini salah satu cara panitia untuk menarik antusias masyarakat desa Kemiren agar berlomba-lomba menyajikan stan yang menarik, kursi, meja serta tempat yang nyaman bagi pengunjung yang datang,” ungkap Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin.
Dengan diadakan lomba, masyarakat tidak terkesan asal-asalan dalam menyambut tamu yang datang. Pmeilik stan tidak sekadar memberikan suguhan jajanan kuliner serta kopi.
Lebih dari itu, agar ada kesan mendalam yang dibawa pulang oleh para pengunjung yang datang.
Warga pun menghias stan sebaik-baiknya agar terlihat unik dan menarik. Dengan tampilan seperti itu, pengunjung akan lebih kerasan menikmati kopi gratis berikut jajanan yang disajikan.
Seperti stan milik Prayitno yang sengaja dirancang dengan anyaman bambu. Desainnya mirip ruang tamu.
Ada kliping berita koran Jawa Pos Radar Banyuwangi yang belakangnya terdapat anak tangga dari bambu. Ada pula gantungan pogo (tempat menaruh peralatan dapur, jagung dan gabah).
Ada juga stan milik Pak Mul. Kursi untuk tamu benuansa kuno dengan anyaman rotan. Mejanya dipasang taplak sehingga mengesankan Kemiren Tempoe Doeloe.
Pada bagian tengah meja terdapat lampu ublik dari minyak tanah. Di atas meja terdapat kue kering dalam toples dan kue basah.
Yang menrik, untuk menyeduh kopi, pemilik bukan menggunakan air panas dalam tremos. Air tersebut direbus menggunakan kompor agar benar-benar panas.
Stan tersebut mengundang daya Tarik wisatawan mancanegara. Dua pasutri asing terklihat menikmatoi sajian kopi Pak Mul.
Stan menarik lainyya adalah Kedaton Wetan yang didesain cukup rapi dan bersih. Stan tersebut dilengkapi batik, tungku, dan penerangan dari obor.
“Untuk menilai stan, juri berjalan kaki melihat langsung dari sisi sebelah utara dan selatan jalan sepanjang dua kilometer,” ungkap Dedy Jumhardiyanto, salah satu juri.
Juri menilai dengan menyamar sebagai pengunjung. Teknisnya melakukan interview dengan pemilik stan. Melihat suguhan kopi, jajanan, cara penyajian, kebersihan.
Sesekali juri juga minta testimoni pengunjung terkait cita rasa kopi, jajanan yang disajikan, serta keramahan penjaga stan.
“Ada stan yang lumayan bagus, tapi anehnya tidak ada pengunjung. Orangnya kurang ramah, itu juga jadi kriteri penilaian,” cetus Dedy.
Ada ratusan stan milik warga Desa Kemiren yang dihias disepanjang jalan. Mereka semuanya menyuguhkan kopi secara gratis dan jajanan.
“Stan tidak mesti bagus, ada yang sederhana, tetapi mengandung unsur lokal, menarik, ramah, dan kekeluargaan,” timpal juri lainnya, Syaifuddin Mahmud. (ddy/aif)
Editor : Ali Sodiqin