RadarBanyuwangi.id – Ribuan warga memadati jalan utama Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi Sabtu malam (4/11).
Mereka datang untuk menikmati kopi khas Banyuwangi yang disajikan secara gratis dalam acara Festival Ngopi Sepuluh Ewu (Sepuluh Ribu Cangkir Kopi).
Acara tersebut digelar dalam rangkaian Banyuwangi Festival sekaligus menandai Dino Dadine Kemiren (Hari Jadi Kemiren) yang ke-166.
Jalan utama sepanjang dua kilometer dipenuhi pengunjung yang berjalan kaki. Kendaraan tidak boleh lewat. Dari ujung barat dan timur dipasang pagar yang dijaga Satpol PP dan petugas Dsihub.
Sementara di sepanjang tepi jalan raya dipenuhi deretan kursi lengkap dengan meja. Terhitung hampir 200 stan milik warga yang menyajikan kopi dan jajanan khas Kemiren.
Di atas meja terdapat toples berisi kue kering seperti klemben, rengginang, keripik gadung, dan aneka kue kering.
Tak ketinggalan juga jajanan dan kue basah khas seperti kucur, ketot, lupis, lanun, kacang rebus, ubi rebus dan berbagai makanan ringan lainya.
“Semua makanan yang ada di atas meja disuguhkan gratis, termasuk kopi,” ungkap David Andria, salah seorang warga setempat.
Untuk merayakan Dino Dadine Kemiren tersebut, David secara khusus menyiapkan 20 kilogram bubuk kopi untuk para tamu.
“Untuk menghormati tamu dan pengunjung yang datang ke desa Kemiren, saya sudah berniat menyajikan kopi gratis sebanyak 20 kilogram dan lima kilogram kue klemben. Kami siapkan juga 1.00 cup untuk menyeduh kopi,” katanya.
Menariknya, kopi berikut kuenya yang disajikan di depan rumah warga tidak dipungut biatya alias gratis.
“Siapapun yang datang, tua, muda, dan orang tua semuanya boleh mampir dan menyeduh kopi dan meminumnya dengan santai layaknya tamu yang sedang singgah di rumah saudaranya sendiri,” ujar David.
Kepala Desa Kemiren, Muhammad Arifin menambahkan, dalam event Festival Ngopi Sepuluh Ewu kali ini ada yang berbeda dibanding penyelenggaraan sebelumnya.
Tahun ini digelar bersamaan dengan rangkaian peringatan Dino Dadine Kemiren yang ke-166.
Desa Kemiren punya hari jadi ke-166 setelah ditemukanya Surat Keputusan (SK) pelantikan kepala desa kedua desa Kemiren, yaitu Darmokarto atau Kepundung yang dibuat oleh Residen Besuki.
Surat tersebut ditulis dengan mesin ketik dan sebagian tulisan tangan. Di sana tertulis tanggal penetapan kepala desa pada 6 November 1902.
Dokumen tersebut disimpan oleh Kades Kemiren ketujuh Sutris yang memerintah pada tahun 1989 sampai 1999.
Setelah ditemukan dokumen tersebut, Kades Arifin kemudian menggelar musyawarah desa (Musdes) untuk menentukan Hari Jadi Desa Kemiren diperingati. Rapat tersebut melibatkan masyarakat dan lembaga adat.
Kades pertama dijabat oleh Marjan alias Walik yang memerintah selama 45 tahun sebelum Darmokarto. Artinya ada acuan tahun baru menjadi bukti dimulainya pemerintahan di Desa Kemiren, yaitu pada tahun 1857.
“Dalam musdes akhirnya disepakati Hari Jadi Kemiren ditentukan dengan tanggal SK kades kedua, yaitu pada tanggal 6 November. Sedangkan tahunya mengacu awal tahun kades pertama memerintah, yaitu pada 1857,” tegas Arifin.
Dalam event Ngopi Sepuluh Ewu kali ini, seluruh warga desa Kemiren mengenakan pakaian adat Osing yakni pakaian warna hitam dan berudeng.
Begitu juga dengan para perempuan mengenakan kebaya warna hitam dan mengenakans arung batik.
“Pengunjung yang datang kami sarankan juga berpakaian adat dan mengenakan udeng,” terang Arifin.
Dengan penuh keramahan, warga Desa Kemiren menyapa dan menyuguhkan kopi kepada para tamu yang datang.
Hampir semua cangkir untuk wadah kopi bermotif sama, cangkir dan lepakan tersebut merupakan cangkir yang telah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.
Kopi yang disajikan pun bervariasi, mulai dari arabika, robusta, hingga house blend. Disertai pula dengan beragam jajanan tradisional yang menemani saat menyeduh dan menyeruput kopi.
Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar ajang minum kopi bersama, melainkan pertunjukan budaya yang mencerminkan keramahan dan kemurahan hati warga Osing.
Pengunjung yang hadir diajak untuk menikmati kopi dalam suasana lesehan atau duduk santai di teras halaman yang disulap menjadi ruang tamu.
“Filosofi sak corotan dadi seduluran (sekali seduh, kita bersaudara). Maksudnya dengan Ngopi Sepuluh Ewu ini kita ingin menjalin dan mempererat silaturahmi dan tali persaudaraan,” ujar Arifin.
Acara ini juga dihadiri oleh banyak warga dari berbagai daerah di Banyuwangi. Event ini menjadi momen berkumpul dengan kerabat di akhir pekan, di mana terlihat kesatuan dan keakraban dalam percakapan antara pengunjung dan warga desa yang menikmati secangkir kopi hangat.
Ngopi Sepuluh Ewu juga berhasil menarik perhatian wisatawan mancanegara, seperti Patrick O’Brien, yang berasal dari Irlandia.
“Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Saya bisa mencicipi kopi Indonesia yang lezat dan beragam, serta merasakan keramahan dan kehangatan warga desa Kemiren. Saya juga banyak belajar tentang budaya dan tradisi Suku Oseng yang unik dan menarik. Saya merasa seperti menjadi bagian dari keluarga besar di sini,” ungkapnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang membuka acara tersebut mengatakan, selain menjadi bagian dari tradisi, Ngopi Sepuluh Ewu juga bertujuan untuk mendukung sektor ekonomi kreatif yang berbasis pada kopi.
“Banyuwangi memiliki potensi kopi yang luar biasa, dan banyak anak muda yang mengembangkannya dengan kemasan yang menarik. Festival ini menjadi kesempatan untuk mempromosikan kopi Banyuwangi ke pasar nasional dan internasional,” ujarnya.
Ipuk mengajak para pengunjung untuk menikmati kopi dan bersilaturahmi dengan sesama.
“Ayo kita angkat cangkir kopi kita, berbagi cerita, dan sempurnakan hari ini dengan persahabatan. Selamat menikmati Ngopi Sepuluh Ewu,” tandas Ipuk yang membuka acara secara virtual. (ddy/aif)
Editor : Ali Sodiqin