RadarBanyuwangi.id – Setidaknya ada empat versi cerita yang dianggap menjadi asal usul nama Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Versi pertama yaitu nama tanaman yang identik di wilayah Kemiren, yaitu kemiri, aren, dan durian.
Versi kedua berkaitan dengan kondisi geografis Desa Kemiren yang dulunya banyak ditumbuhi tanaman kemiri sehingga banyak disebut Kemirian oleh banyak orang.
Versi ketiga, berkaitan dengan sifat masyarakat Kemiren yang memiliki sifat iren-iren.
Menurut Ketua Lembaga Adat Masyarakat Using Kemiren Suhaimi, sifat iren-iren berbeda dengan sifat iri yang dipahami beberapa orang.
Iren-iren lebih kepada keinginan masyarakat Kemiren agar memiliki sesuatu yang sama dengan tetangganya.
Suhaimi mencontohkan, ada salah satu warga yang membeli lemari baru, tetangga yang lain akan datang untuk melihat.
Ketika dilihat benda itu bagus, tetangganya berusaha membeli barang yang sama.
”Menurut saya paling dekat budaya iren-iren. Makanya, di sini banyak yang apa-apa sama,” kata Suhaimi.
Tak heran jika akhirnya banyak hal seragam yang terlihat di Desa Kemiren. Mulai arsitektur bangunan, jenis perabotan rumah, pakaian penduduk, hingga benda-benda lain seperti kendaraan.
Suhaimi menceritakan, pernah suatu waktu ada salah satu warga yang membeli sepeda motor keluaran tahun 1969. Sepeda tersebut dipoles sehingga tampak bagus.
Melihat itu, banyak warga yang akhirnya membeli sepeda yang sama. Di Desa Kamiren akhirnya banyak ditemukan sepeda motor model kuno.
”Usum-nya sepeda ontel juga begitu. Ada yang beli satu, akhirnya banyak yang beli. Makanya banyak sepeda ontel akhirnya di Kemiren. Karena budaya iren-iren ini,” imbuhnya.
Versi terakhir, nama Kemiren adalah akronim dari kemroyok mikul rencono nyoto. Maknanya, prinsip gotong royong.
Versi ini, menurut Kades Kemiren Mohamad Arifin, sekaligus menjadi penyemangat bagi para penduduk desa.
Namun, jika merujuk kepada kebiasaan warga, sepertinya versi yang paling dekat adalah versi kedua.
Masyarakat Kemiren menurutnya kerap memberi nama sebuah wilayah dari ciri khas yang dekat geografis tempat itu.
Ada kampung yang diberi nawa Siwuran, karena dulunya banyak warga pembuat siwur atau gayung di sana.
Lalu ada juga kampung Gedangan yang dulunya memang banyak ditumbuhi tanaman pisang atau gedang.
Ada juga kampung yang disebut Tegal Campak. Nama itu muncul karena semua tanaman mangga yang tumbuh di tanah itu rasanya hambar atau campak dalam bahasa Oseng.
”Kalau melihat cara warga menamai tempat, sepertinya nama Kemiren lebih dekat dengan banyaknya pohon kemiri atau hutan kemiri di sini,” kata Arifin.
Hal itu juga diperkuat dengan keterikatan masyarakat dengan tanaman kemiri. Mulai dari jajanan yang banyak dibungkus dengan daun kemiri. Kemudian bumbu-bumbu masakan, seperti pecel pitik juga menggunakan kemiri.
”Warga Oseng di sini memberi nama sesuatu dengan sederhana. Jadi mungkin itu yang lebih mudah untuk mengetahui asal muasal nama Kemiren. Di sini ada juga beberapa orang yang diberi nama dengan rutinitas seperti Tandur, Tanem, Buang, dan Mandaneyo,” kata Arifin. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin