RadarBanyuwangi.id – Tradisi kebo-keboan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, kembali digelar Minggu (30/7).
Ribuan penonton berjubel menyaksikan tradisi tahunan tersebut. Acara kebo-keboan semakin meriah dengan kedatangan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Abdullah Azwar Anas bersama sang istri Ipuk Fiestiandani yang juga Bupati Banyuwangi.
Yang membedakan dengan tradisi sebelumnya, tahun ini dimeriahkan munculnya kebo berwara putih atau kebo albino. Manusia yang berdandan ala kerbau putih tersebut mendapat perhatian tersendiri dari penonton.
Kebo albino diperankan oleh ikon kebo-keboan Alasmalang Slamet atau yang akrab disapa Mamet Ndut.Selain berbadan tambun, Mamet sangat pas memerankan kebo putih.
Dandananya sangat totalitas dengan dua tanduk di kepala. Sorot matanya tajam. Hidungnya mirip kerbau. Selama ritual berlangsung, kebo putih tersebut mendampingi Dewi Sri atau Dewi Padi.
“Pemeran keboan albino menjadi warna dan pembeda di kalangan penonton," ucap Budi Atmaja, salah satu penonton.
Kebo-keboan Alasmalang merupakan tradisi masyarakat setempat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
Mereka berdandan dengan tubuh penuh dengan cat warna hitam. Tidak segan-segan, manusia kerbau ini mengintai sejumlah penonton yang hendak mengganggu jalannya ritual.
Ritual kebo-keboan Alasmalang diawali selamatan bersih desa di perempatan jalan. Acara dilanjutkan ider bumi di empat penjuru mata angin, barat, utara, timur, selatan.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, tradisi kebo-keboan Alasmalang sangat didukung seluruh masyarakat Banyuwangi.
“Ini bentuk kearifan lokal budaya di desa yang harus dipertahankan. Bahkan, ritual adat ini merupakan bagian ikhtiar agar Desa Alasmalang diberikan kebaikan dan panen yang melimpah," harapnya.
Pemkab Banyuwangi, kata Ipuk, sangat mendukung semua kegiatan masyarakat. "Kegiatan kebo-keboan merupakan bagian dari upaya menguatkan silaturahmi serta menjaga kekompakan untuk kebaikan semua," terangnya.
Meski di tengah keterbatasan, tradisi kebo-keboan Alasmalang masih tetap terjaga dengan baik, tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Pemkab Banyuwangi juga berkomitmen mempromosikan upaya pelestarian budaya. Tentunya, ini semua merupakan kerja sama dan gotong royang yang kuat di masyarakat.
“Mudah-mudahan doa dan hajat masyarakat Desa Alasmalang terkabulkan. Adat Kebo-keboan Alasmalang harus tetap dipertahankan," tandas Ipuk yang membuka acara dengan dengan menabuh bedug.
Tradisi kebo-keboan semakin seru saat peserta berpakian ala kerbau mulai dilepas dari titik kumpul. Mereka langsung menuju area persawahan yang penuh lumpur.
Mereka memeragakan cara membajak tanah, mengairi sawah, hingga menemani petani saat menabur benih padi.
Ritual ditutup dengan berebut benih padi yang ditebar pemeran Dewi Sri. Orang yang mengambil benih padi kemudian dikejar oleh kerbau jadi-jadian tersebut di tengah lumpur.
“Ini momen yang ditunggu-tunggu, yakni saling berkejaran dengan kerbau sambil bermain lumpur di sawah. Rasanya senang kalau pulang bawa benih padi kebo-keboan meski belepotan lumpur,” ujar Anis, warga Desa Lemahbangkulon. (ddy/aif)
Editor : Ali Sodiqin