RadarBanyuwangi.id – Bagi masyarakat Jawa, Suro dipercaya sebagai bulan yang sakral. Bulan Suro merupakan waktu yang sangat baik untuk mawas diri dan berdoa agar diberi keselamatan dan terhindar dari marabahaya.
Bulan Suro juga dianggap sebagai bulan yang keramat, sehingga sangat baik untuk jamasan pusaka maupun bentuk tirakat lainnya.
Di pelinggihan kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi hampir setiap tahun digelar jamasan pusaka yang dilakukan oleh Paguyuban Tosan Aji Panji Belambangan yang dipimpin KRT llham Trihadinagoro. Di tempat tersebut berjejer ratusan pusaka dan berbagai jenis keris.
Mulai tanggal 10 sampai 23 Juli juga diselenggarakan jamasan pusaka dan pameran keris. Pengunjung bisa melakukan konsultasi dan cara merawat benda pusaka kepada KRT llham.
Ilham mencuci keris dengan kembang setaman kemudian membersihkan bagian yang berkarat dan memberikan minyak pada permukaan keris.
”Ini keris brojol pamor uler lulut,” ungkap Ilham sambil menunjukkan keris milik Ketua PCNU Ali Makki Zaini yang siang itu ikut dijamas.
Menurut Ilham, sejak 1 Suro 2006, tak lama setelah keris Indonesia diakui oleh UNESCO pada 25 November 2005, Panji Belambangan aktif melakukan jamasan pusaka dan tosan aji.
Pengakuan keris oleh UNESCO tersebut merupakan simbol kecerdikan budi manusia nusantara sebagai warisan kemanusiaan milik dunia.
Jamasan merupakan simbol bersih diri. Jamasan memiliki makna yang dalam. Selain membersihkan secara fisik, prosesi itu juga bertujuan untuk membersihkan diri secara batin.
”Bagaimana manusia itu harus introspeksi setidaknya setahun sekali, mengingat apa yang sudah dilakukan sepanjang tahun dan apa yang akan dilakukan pada tahun mendatang,” papar Ilham.
Adanya tahapan dan ritual dengan sejumlah aturan, menurut Ilham, mencerminkan tentang kehidupan manusia yang memiliki norma-norma.
”Orang perlu introspeksi dan mengingat norma-norma kehidupan yang ada sehingga orang tak menyimpang dari pakemnya (jalan hidup). Demikian juga dalam konteks masyarakat ketika ada orang-orang yang tidak sesuai dengan aturan yang jadi kesepakatan, dia harus diingatkan untuk kembali ke tujuan hidupnya,” imbuh Ilham.
Benda pusaka seperti keris merupakan wujud budaya fisik bernilai tinggi yang sudah seharusnya dihargai. Penghargaan tersebut sebagai simbol tentang harmoni keseimbangan dalam berperilaku. Di sana ada keterampilan dan kesabaran untuk membuatnya.
Ada juga keris yang bisa berdiri. Itu bukan karena daya magis, melainkan dibuat dengan sungguh-sungguh dan seimbang.
”Secara sosial, generasi muda saat ini juga diberi wejangan bahwa hidup itu mestinya penuh dengan harmoni dan keseimbangan dalam berperilaku,” tandasnya.
Ali Makki Zaini datang paling awal untuk mengikuti jamasan pusaka yang digelar oleh Panji Belambangan. ”Saya datang ke sini setelah mendapat kabar jika ada jamasan pusaka dan tosan aji di pelinggihan Disbudpar Banyuwangi,” ungkap Gus Makki.
Setelah melihat-lihat benda pusaka yang dipamerkan, Gus Makki langsung membawa satu keris pusaka miliknya untuk dijamas.
”Saya hanya pencinta besi tua biasa yang ingin melestarikan warisan leluhur. Keris merupakan pusaka adiluhung dan artefak warisan kemanusiaan milik dunia yang diakui UNESCO,” ungkapnya. (ddy/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin