RadarBanyuwangi.id – Tubuh Warsen mendadak tergelepar ke tanah. Tingkahnya aneh, suaranya mengerang. Tatapan matanya kosong. Kedua lengannya ditekuk di depan dadanya. Tingkahnya mirip seperti kerbau. Kepalanya digosok-gosokkan ke tanah dan mencari kubangan lumpur.
Pria berusia 55 tahun itu sedang kerasukan roh leluhur Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. Bagi warga setempat, peristiwa tersebut bukan sesuatu yang aneh, apalagi menjelang bulan Suro (Muharram).
Selama kesurupan, Warsen meminta agar tradisi keboan dan selametan kampung digelar tahun ini. “Warga yang kerurupan sudah mulai beberapa orang. Ini merupakan pertanda agar tradisi keboan segera digelar,” ujar Kepala Desa Aliyan, Anton Sujarwo.
Mendengar warga sudah mulai kesurupan, Anton berusaha menggelar tradisi keboan tetap diselenggarakan tahun ini dengan meriah.
“Sebagian gapura dari bambu sudah mulai dipasang di beberapa titik untuk menyambut datangnya bulan Muharram. Tidka lama lagi tradisi keboan kita gelar tahun ini,” tegas Ketua Asosiasi Kepala Desa Banyuwangi ini.
Menurut Anton, tradisi keboan di Desa Aliyan rencananya akan dilaksanakan Minggu depan tanggal 23 Juli. Rangkaian acaranya tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.
“Sebagian warga sudah menggelar selamatan kampung. Setiap dusun sudah mulai membuat lawang kori atau gapura dari bambu,” terang Anton. (ddy/aif)
Editor : Ali Sodiqin