Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gelaran BEC dari Tahun ke Tahun Selalu Membawa Tema Khusus di Setiap Edisi

Gareta Yoga Eka Wardani • Minggu, 9 Juli 2023 | 16:00 WIB
BEC 2019: Pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival tahun 2019 mengambil tema The Kingdom of Blambangan.”
BEC 2019: Pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival tahun 2019 mengambil tema The Kingdom of Blambangan.”

RadarBanyuwangi.id – Banyuwangi dikenal sebagai Kota Festival. Salah satu festival andalannya yakni festival kostum etnik yang dikenal sebagai Banyuwangi Ethno Carnival (BEC).

BEC pertama kali digelar tahun 2011. Tepatnya, pada tanggal 22 Oktober 2011 di masa kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas.

Kala itu, festival kostum BEC pertama kali mengangkat tema tentang ”Gandrung, Damarwulan, dan Kundaran”. Ketiganya merupakan kesenian daerah yang berkembang di kalangan masyarakat Bumi Blambangan.

Kostum kesenian daerah dipoles sedemikian rupa menjadi kostum karnaval dengan sentuhan modern. Tak heran, tampilannya begitu memukau siapa pun yang melihatnya.

Gelaran BEC perdana tersebut berlangsung sukses, ditandai dengan besarnya apresiasi dan animo dari masyarakat. Perhelatan pertama ini sekaligus menjadi pemicu munculnya desainer busana kontemporer di Banyuwangi.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Ainur Rofiq mengungkapkan, BEC yang memiliki unsur ethno membuatnya lebih berfokus terhadap kebudayaan lokal.

”Kita mengeksplorasi tema lokalistik. Di setiap tahun, mengusung tema lokal untuk diperkenalkan kepada masyarakat umum melalui BEC. Bisa dikatakan BEC mengenalkan yang di dalam (lokal) ke luar (internasional),” ujarnya.

Pasca kesuksesan di tahun pertama pergelaran BEC, event ini terus berlanjut hingga di tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2012 BEC mengangkat tema ”Re-Barong Osing”.

Pergelaran kedua BEC tersebut berlangsung pada 18 November 2012. Barong merupakan kesenian yang sangat dekat dengan masyarakat Banyuwangi. Yang ditampilkan dalam bentuk teater rakyat.

Lalu, di tahun 2013, BEC mengusung tema ”The Legend of Kebo-keboan” yang digelar pada 8 September 2013. Ritual adat pertanian masyarakat Desa Aliyan dan Desa Alasmalang ini menjadi inspirasi di perhelatan BEC tahun ketiga kala itu.

Rofiq menyebut, melalui BEC kebudayaan masyarakat lebih dikenal luas. Yang paling utama berdampak terhadap perekonomian masyarakat.

”Contohnya saja, dulu belum banyak orang mengenal tradisi Kebo-keboan. Tapi melalui BEC kegiatan tradisi Kebo-keboan menjadi lebih dikenal. Dengan dikenal, maka ada perputaran ekonomi di dalamnya,” jelasnya.

Lalu BEC keempat digelar tanggal 22 November 2014 dengan tema ”The Mystic Dance of Seblang”. Seperti yang diketahui tari seblang menjadi ritual adat sakral suku Oseng di Kecamatan Glagah.

Tari tersebut sangat terkenal akan sisi magis karena dibawakan oleh penari dalam keadaan kesurupan.

Berlanjut, pada tanggal 17 Oktober 2015 silam, BEC digelar dengan konsep ”The Osingnese Royal Wedding”. Inspirasi utamanya dari busana pengantin adat Oseng.

Secara umum adalah gabungan antara kain batik tradisional dengan motif paras gempal, gajah oling, atau moto pitik, dengan beberapa perhiasan seperti kembang giyang dan anting greol.

 Tahun 2016 tepatnya 12 November konsep yang diusung adalah ”The Legend of Sritanjung-Sidopekso”. Yang tak lain adalah kisah cinta Sritanjung-Sidopekso dan Prabu Sulahkromo. Kisah melegenda ini menjadi inspirasi pergelaran BEC ke-6.

Sedangkan pelaksanaan BEC ke-7 pada 11 November 2017 menunjukkan sisi lain dari ”The Majestic of Ijen”. Yang berfokus pada keanekaragaman hayati di kawasan Gunung Ijen.

Budaya lokal Bumi Blambangan kembali menjadi inspirasi konsep BEC tahun 2018, yakni ”Puter Kayun”. BEC ke-8 ini dihelat pada 29 Juli.

Puter kayun adalah tradisi kuno masyarakat Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, yang eksistensinya masih terjaga hingga kini.

Tradisi ini bertujuan untuk mengenang dan menapak tilas perjalanan Ki Buyut Jakso, yang membuka jalur utara Banyuwangi.

Selanjutnya pada tanggal 27 Juli 2019, BEC ke-9 digelar dengan tema ”The Kingdom of Blambangan”.

Konsep ini diangkat untuk mengingat kembali kejayaan Kerajaan Blambangan di masa lalu. Sebab, Kabupaten Banyuwangi tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Kerajaan Blambangan.

Sementara itu, tahun lalu BEC ke-10 kembali diusung pasca dua tahun vakum karena pandemi Covid-19. Tema yang diangkat yakni ”Diversity of Banyuwangi Culture”.

Tema tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Banyuwangi memiliki keragaman budaya yang majemuk. Hal itu dibuktikan dengan berbagai kelompok etnis yang hidup berdampingan dengan damai.

Masih dengan Rofiq, tahun ini BEC menampilkan pergelaran baru dengan konsep ”The Majestic of Ijen Geopark”.

Tema tersebut diangkat dalam rangka mengenalkan dan memublikasikan bahwa Gunung Ijen telah resmi menjadi bagian UNESCO Global Geopark (UGG).

”Ada tujuh subtema yang diangkat. Antara lain, Ijen, Pulau Merah, Parang Ireng, Lider, Sukamade, Sembulungan, dan Alas Purwo. Subtema tersebut menggambarkan tentang site-nya Ijen Geopark,” pungkasnya. (rei/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#BEC #tradisi #Geopark #Banyuwangi Ethno Carnival #kebo-keboan #seblang #gunung ijen #suku