RadarBanyuwangi.id – Pesantren Lateng yang menjadi tempat berdirinya organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia, yakni Gerakan Pemuda (GP) Ansor, bakal didaftarkan menjadi cagar budaya.
Bupati Ipuk Fiestiandani pun menyatakan siap mendukung serta memfasilitasi upaya tersebut.
Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jatim, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Daerah (Komda) Jawa Timur, serta unsur Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, mengunjungi Masjid Kiai Saleh Lateng, di Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi, bulan lalu (13/6).
Mereka datang untuk melakukan peninjauan lokasi yang berpotensi menjadi bangunan atau kawasan cagar budaya.
Bupati Ipuk menyatakan siap mendukung pendaftaran Pesantren Lateng menjadi cagar budaya. Dia menegaskan, pihaknya siap berkolaborasi untuk mengawal inisiatif warga dalam melindungi situs-situs yang bernilai cagar budaya.
”Pada prinsipnya, kami sangat mengapresiasi langkah masyarakat ini dan siap untuk memfasilitasi,” ujarnya.
Kompleks pesantren yang terletak di Jalan Riau, Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi, itu diajukan sebagai cagar budaya atas inisiatif Takmir Masjid Kiai Saleh, Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Komunitas Pegon, dan dikawal oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi.
Pengajuan tersebut didasarkan atas dua hal. Yang pertama, didasari kondisi fisik bangunan yang masih terjaga orisinalitasnya.
Sedangkan yang kedua, secara historis gedung tersebut menyimpan sejarah penting dalam perjalanan bangsa.
”Jika kita lihat, bangunannya masih berarsitektur art deco khas bangunan masa kolonial. Ubinnya dan tembok-temboknya menyiratkan secara kuat,” ungkap Founder Komunitas Pegon Ayung Notonegoro saat menjelaskan konsep bangunan yang selesai dibangun pada 1918 itu.
Pesantren tersebut juga memiliki sisi historis yang luar biasa. Pada 24 April 1934, digelar sidang Majelis Syuriyah Muktamar ke-IX Nahdlatul Ulama (NU) di tempat tersebut.
Sidang tersebut menghasilkan sejumlah keputusan penting. Di antaranya adalah diterimanya Anshoru Nahdlatoel Oelama (ANO) sebagai bagian resmi dari NU.
”ANO ini kini dikenal sebagai Gerakan Pemuda Ansor. Badan otonom NU yang memiliki keanggotaan terbesar dalam organisasi kepemudaan di dunia,” jelas Ayung.
Selain memiliki bangunan yang berpotensi menjadi cagar budaya, Pesantren Lateng juga menyimpan sejumlah manuskrip kuno yang juga berpotensi menjadi cagar budaya.
Seperti halnya Babad Tawangalun beraksara pegon atau pun naskah-naskah yang berasal dari Kesultanan Palembang. Kekayaan koleksi naskah dan kitab yang tersimpan di sana, membuat pesantren tersebut ditunjuk sebagai tuan rumah Festival Kitab Kuning 2023.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jatim Endang Prasanti menuturkan, dari hasil pengamatannya, pesantren tersebut diduga kuat sebagai objek cagar budaya. Begitu pula dengan bangunan masjidnya yang terletak dalam satu kawasan.
”Tapi, nanti perlu kajian lebih jauh. Apa penetapannya berupa bangunan ataukah kawasan,” sebutnya.
Endang mengaku sangat kagum terhadap bangunan sekaligus cerita tentang Masjid Kiai Saleh tersebut. Menurut dia, objek yang diduga cagar budaya tersebut bisa menjadi tinjauan yang lebih serius.
Endang menambahkan, lokasi tersebut menjadi salah satu bukti perkembangan NU di Banyuwangi yang umumnya menyimpan sejarah Islam di Jawa Timur.
”Di sini saya benar-benar melihat bahwa akulturasi budaya sangat kuat. Yang mana bangunan ini bernilai kolonial namun interiornya telah tertata dan dijaga dengan baik sebagai bangunan pesantren,” jelasnya. (sgt/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin