Ketua Komunitas Banyuwangi Geographic Minhajul Qowim mengatakan, jika tumpukan struktur batu bata itu diduga tertimbun karena letusan gunung, maka yang bisa meneliti adalah ahli vulkanologi, bukan sejarawan.
Menurut Qowim, saat ada penemuan struktur bangunan yang ditemukan di dalam permukaan tanah kerapkali diduga akibat letusan gunung. Padahal, banyak faktor yang menyebabkan sesuatu bangunan yang tertimbun permukaan tanah.
Qowim menyebut, jika material vulkanologi, maka meski tertimbun dan berusia ribuan tahun masih bisa diteliti. “Dari morfologi tanahnya masih bisa diteliti dan yang memiliki keahlian adalah ahli vulkanologi, bukan sejarawan apalagi budayawan,” kata dia.
Menurut Qowim, apabila terdapat struktur bangunan yang berada dalam permukaan tanah, maka harus ada argumentasi logis. “Gunung apa yang menimbun dan jenis tipe letusannya seperti apa? Masing-masing gunung berapi itu memiliki tipe letusan yang berbeda, ada tipe strombolian yang dikeluarkan pasir,” tuturnya.
Material vulkanik yang ditemukan pada gunung berapi berbeda-beda, tipe letusan Gunung Semeru dengan Gunung Raung juga berbeda. “Kalaupun pada masa lalu tertimbun letusan gunung, berarti tidak ada sungai, karena yang dilewati material gunung berapi jadi rata. Faktanya kini masih banyak sungai,” bebernya.
Maka dalam memutuskan penemuan struktur bangunan yang ditemukan di dalam permukaan tanah harus ada penelitian lebih lanjut dari para ahli. Bukan dengan seenaknya disimpulkan tanpa dasar dan alasan yang logis.
Seperti diberitakan sebelumnya, ribuan pecahan batu bata kuno ditemukan di area tambang pasir galian C di Kecamatan Songgon, pada Jumat (28/4). Bata-bata berwarna merah itu ditemukan oleh warga Desa Balak yang berada di sekitar tambang sedalam kurang lebih dua meter di bawah tanah.
Kondisinya banyak yang sudah patah dan hancur. Saat ditemukan, bata tersebut sudah dalam kondisi tidak utuh atau rusak. Banyak yang kondisinya sudah pecah. Namun beberapa di antaranya masih utuh. Secara kasat mata, ukuran batu bata yang ditemukan tersebut begitu besar, tidak seperti batu bata bangunan yang biasa ditemui pada umumnya. Saat diukur, batu bata tersebut memiliki panjang 35 centimeter (cm), lebar 18 cm, dan tebal 8 cm.
Ada yang berukuran panjang 18,5 cm, lebar 22 cm, dan tebal 8,6 cm. Sisanya, panjang 36 cm, lebar 20 cm, dan tebal 9 cm. Tumpukan batu bata merah yang identik dengan batu bata era kerajaan Majapahit ini ditemukan di kedalaman 2,5 meter. (ddy/sgt) Editor : Syaifuddin Mahmud