Menurut Aji, hasil analisis pertama, ODCB tersebut merupakan sebuah pelataran candi. Ini berdasarkan temuan tim berupa bata yang tersusun hanya terdiri atas dua lapisan. Analisis kedua, ODCB di Desa Balak merupakan lokasi permukiman masyarakat pada abad ke-13. ”Ini dibuktikan dengan adanya temuan lepas berupa kereweng dan keramik Cina dari era Dinasti Ming,” ujarnya.
Untuk analisis ketiga, terang Aji, ODCB itu fondasi benteng kayu atau palisade di era Perang Bayu yang terjadi pada 1771. ”Atau bisa juga palisade dari era perang Tawangalun-Wilabrata yang terjadi sekitar tahun 1659,” katanya.
Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Ilham Triadinagoro menambahkan, berdasarkan hasil observasi ditemukan karakteristik peninggalan masa lalu pada batu bata kuno di lokasi ODCB itu. Ukurannya yang bervariatif memiliki teknik pengerjaan yang unik. ”Yakni dilakukan sangat tradisional tanpa glasir yang masih 50 persen utuh,” terangnya.
Di antara reruntuhan bata berukuran besar itu, juga ditemukan artefak-artefak berbahan porselen dari masa Dinasti Ming Wanli pada1373–1620 dan puluhan pecahan gerabah.
Ilham menyatakan, pihaknya masih melakukan serangkaian upaya penelitian dan pengkajian di sejumlah tempat yang berpotensi memiliki situs purbakala. ”Yang kami lakukan baru survei permukaan untuk membuat kajian awal,” pungkasnya. (gas/abi/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha