Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Seblang Buktikan Tradisi Bisa Jadi Inklusif

Gerda Sukarno Prayudha • Minggu, 30 April 2023 | 19:57 WIB
MATA TERPEJAM: Dwi Putri Ramadani menari mengikuti irama gamelan di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)
MATA TERPEJAM: Dwi Putri Ramadani menari mengikuti irama gamelan di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. (Ramada Kusuma/RadarBanyuwangi.id)
BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Dua ritual adat yang digeber di dua desa pada momen peringatan Idul Fitri, yakni Barong Ider Bumi dan Seblang Olehsari, membuktikan bahwa masyarakat Banyuwangi mampu membawa tradisi menjadi sesuatu yang inklusif. Tidak hanya warga setempat, masyarakat umum termasuk wisatawan asal luar daerah pun dapat ikut menikmati keseruan tradisi yang masing-masing digelar di Desa Kemiren dan Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, tersebut.

Ya, sudah bukan rahasia lagi bahwa sejumlah tradisi yang digelar masyarakat Banyuwangi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke kabupaten the Sunrise of Java. Termasuk Barong Ider Bumi dan Seblang Olehsari.

Tahun ini Seblang Olehsari digelar mulai Senin (24/4). Ritual tersebut digeber tujuh hari berturut-turut sampai hari ini (30/4). Ya, Seblang Olehsari bukanlah tarian biasa. Sang penari adalah perempuan terpilih yang ditentukan secara supranatural oleh tetua adat setempat.

Penari mengikuti irama gamelan dan gending-gending Oseng dengan mata terpejam dan dalam kondisi in-trance (kerasukan) roh leluhur warga desa setempat. Penari seblang yang terpilih selalu memiliki hubungan darah dengan leluhur seblang terdahulu.

Sementara itu, sejak penyelenggaraan hari pertama, ratusan pengunjung selalu memadati arena seblang di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah. Tidak sedikit pula pengunjung asal kecamatan lain bahkan luar daerah yang untuk melihat langsung tradisi tersebut.

”Mistisnya terasa, sempat merinding namun berakhir seru karena dapat lemparan selendang, jadi disuruh ikut menari,” tutur Rahmalia Wulan, 22, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia (UI), yang tengah meneliti Seblang Olehsari secara langsung.

Wulan mengaku tertarik dengan kekayaan etnis yang ada di Banyuwangi. Menurut dia, Banyuwangi berhasil membawa tradisi menjadi budaya populer sehingga bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. ”Menjadi unik karena biasanya tradisi itu eksklusif pada satu komunitas tertentu. Di sini (Banyuwangi) semua tradisi menjadi inklusif, tak hanya Seblang Olehsari, tetapi juga Barong Ider Bumi, Kebo-keboan dan lainnya juga demikian,” tutur mahasiswa asal Palangkaraya itu.

Kepala Desa Olehsari Joko Mukhlis mengaku bersyukur pelaksanaan ritual tahun ini berjalan dengan lancar tanpa halangan apa pun setelah tahun lalu sempat diguyur hujan deras. ”Puji syukur prosesi ritual berjalan lancar. Cuaca sangat mendukung sehingga semuanya berjalan lancar dan ramai pengunjung,” ujarnya.

Penari Seblang tahun ini adalah Dwi Putri Ramadani, 19. Perempuan yang baru saja lulus dari SMK Negeri 1 Banyuwangi itu merupakan keturunan Seblang Salwati. Tahun ini adalah tahun pertama Dwi menjadi seblang, menggantikan Susi Susanti yang telah tampil menjadi seblang sejak tahun 2020. (sgt/bay/c1)

  Editor : Gerda Sukarno Prayudha
#osing #olehsari #kesurupan #seblang #banyuwangi #gandrung