Selain menjadi atraksi wisata, warga setempat menggelar ritual ini dengan tujuan mengusir pagebluk. Ya, Seblang Olehsari bukanlah tarian biasa. Seorang penari terpilih menari mengikuti irama gamelan dan gending-gending Oseng dalam kondisi in trance (kerasukan) roh leluhur warga desa setempat. Menariknya lagi, selama menari, mata sang penari terus terpejam.
Bukan itu saja, sang penari merupakan remaja putri yang dipilih oleh tokoh adat secara supranatural. Penari tersebut merupakan keturunan dari penari seblang terdahulu.
Penari Seblang Olehsari tahun ini adalah Dwi Putri Ramadani, 20. Tahun ini adalah kali pertama Dwi ”bertugas” sebagai seblang. Dia menggantikan Susi Susanti yang kali terakhir menjadi penari seblang pada 2022 lalu.
Kepala Desa Olehsari Joko Mukhlis bersyukur ritual seblang berjalan lancar. Ritual adat tersebut akan berlangsung selama sepekan, yakni mulai Senin lalu hingga Minggu (30/4) mendatang. ”Mohon doanya, semoga ritual adat tradisi desa untuk tolak bala ini bisa berlangsung lancar, aman, tidak ada gangguan berarti, dan desa kami diberikan keberkahan serta kemakmuran,” harapnya.
Sementara itu, pada pelaksanaan hari kedua kemarin (25/2), ratusan orang menyaksikan ritual adat seblang. Maklum, pada pelaksanaan hari pertama banyak warga yang belum banyak mengetahui tradisi seblang sudah dimulai. Tidak hanya warga desa setempat, ada pula warga luar kecamatan maupun luar Banyuwangi yang ikut menyaksikan seblang secara langsung.
Dalam setiap kali pelaksanaan ritual seblang, ada satu hal yang paling ditunggu pengunjung, yakni kembang dermo. Kembang dermo merupakan kuntum bunga yang ditancapkan pada bilah bambu. Kembang ini dijual oleh penari seblang dibantu oleh para keluarga dan tokoh adat setempat.
Kuntum bunga yang ditancapkan pada bilah bambu adalah kuntum bunga yang memiliki aroma wangi. Satu tangkai berisi tiga jenis bunga, yakni bunga wongso (kenanga), sundel, dan pecari kuning. Sebelum dibagikan, bunga-bunga itu diasapi. Penonton dapat membeli bunga tersebut pada sesi menjelang akhir upacara adat.
Pada saat gending Kembang Dermo dibawakan, penari seblang membawa nyiru alias tampah berisi kembang dermo. Gending ini dilantunkan pada saat akhir pertunjukan saat sang penari akan disadarkan kembali.
Ketika tahap inilah, para penonton khususnya muda-mudi, saling berebut untuk mendapatkan bunga tersebut. Tentu, dengan memberikan uang tebusan atau mahar. Untuk mendapat tiga tangkai kembang dermo, mahar yang harus dibayarkan sebesar Rp 10 ribu . ”Bisa untuk syarat, bagi yang meyakini, apalagi masih jomblo akan segera dapat jodoh,” ujar salah seorang pengunjung asal Cluring, Erwin.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi M.Yanuarto Bramuda bersyukur pelaksanaan ritual adat Seblang Olehsari tahun ini berjalan dengan lancar tanpa halangan. ”Ritual adat seblang ini merupakan salah satu atraksi wisata Banyuwangi di bulan Syawal, selain adat tradisi Barong Ider Bumi Kemiren. Tentu ini menjadi suguhan yang menarik yang bisa dinikmati wisatawan selama sepekan di bumi the Sunrise of Java,” tandasnya. (ddy/sgt/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha