Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa sudah menjadi badan otonom dari Nahdlatul Ulama (NU). Seni bela diri khas Nusantara ini mulai terbentuk sejak puluhan tahun silam. Seni bela diri ini sudah ada sejak zaman penjajahan. Ini menjadi bekal di masa kemerdekaan dan terus berkembang hingga sekarang.
Sekretaris Pagar Nusa Banyuwangi, Ahmad Syifa' Nailul Wafar menjelaskan, sejarah Pagar Nusa diawali pada tahun 1886. Saat itu, mayoritas anggota ahli dalam seni bela diri kerap melakukan adu kesaktian dan uji kemampuan. Pada perkembangan selanjutnya, kondisi NU pada masa itu hampir mengalami perpecahan.
Namun, para petinggi NU pada masa itu yakni Kiai Samsuri Badhawi, Kiai Adlan Ali dari Jombang, dan Gus Mus dari Rembang membuat suatu gagasan untuk membentuk badan otonom atau lembaga di bawah NU. Badan otonom ini bertujuan agar menjadi wadah pencak silat.
Maka Pagar Nusa pun terbentuk di Pondok Lirboyo Kediri yang diketuai oleh KH. Abdullah Maksum Jauhari. Sedangkan di Bumi Blambangan, Pagar Nusa berkembang di tahun 1990-an. "Kepengurusan Pagar Nusa Banyuwangi akhirnya resmi terbentuk di tahun 1992," ujarnya.
Eksistensi Pagar Nusa di Banyuwangi kini adalah menjadi tim keamanan dari kegiatan PCNU Banyuwangi. Selain itu, para anggota Pagar Nusa turut berkontribusi di bidang sosial masyarakat. Setidaknya itu terbukti selama masa pandemi.
Para Kang (sebutan anggota laki-laki Pagar Nusa) menjadi relawan pemulasaran jenazah warga yang terkena wabah pandemi Covid-19. Hal itu dilakukan secara gotong-royong dengan masyarakat setempat.
Sementara itu, tercatat ada 1.520 orang yang terdaftar dalam e-KTA Pagar Nusa. Selanjutnya, ada 20 ribu orang lebih yang belum terdaftar sebagai anggota Pagarnusa Banyuwangi. Jumlah yang cukup fantastis untuk sebuah lembaga pencak silat. "Anggota berusia sekitar 18 tahun sampai 30 tahun. Persentase anggota laki-laki dan perempuan adalah 75 persen banding 25 persen," imbuh pria berusia 36 tahun.
Kegiatan rutin dari Pagar Nusa adalah latihan setiap pekan. Sesekali juga digelar latihan gabungan. Ada pula kegiatan khusus untuk prestasi yang dilakukan setiap hari. (rei/bay) Editor : Rahman Bayu Saksono