Kesenian hadrah merupakan media dakwah tradisional yang eksistensinya masih ada hingga saat ini. Kesenian tersebut merupakan salah satu media dakwah Islami yang disampaikan melalui seni hadrah kuntulan dan tari.
Hadrah Kuntulan menggunakan iringian musik dari alat-alat musik seperti terbang, jidor, pantus, dan saat ini ditambah piano. Isi pesan dakwah disampaikan melalui konsep selawatan, pengajian, syair–syair Islam dan pembacaan kitab Al Barjanji. Kesenian hadrah juga memiliki fungsi hiburan bagi masyarakat.
Kesenian hadrah kuntulan merupakan kekayaan seni yang beragam dari daerah ujung timur Pulau Jawa. “Hadrah kuntulan lebih mengumandangkan puji-pujian tentang keagungan Allah SWT, selawat, yang di dalamnya juga terselip doa dan permohonan ampunan seorang hamba kepada Sang Khalik, serta memohon keselamatan dunia akhirat,” ujar Sabar Harianto, seniman tari Banyuwangi.
Hadrah kuntulan biasanya tampil bersama dengan para penari, pada waktu peringatan hari besar keagamaan dan kegiatan hajatan baik pernikahan maupun khitanan dan acara bersih desa. Para penarinya menampilkan tari Rodat, dengan memakai kerudung, sarung tangan, dan kaus kaki.
Irama musik hadrah Kuntulan ini menjadi keunikan pertama yang dapat didengar oleh masyarakat. Rebana, beduk, kluncing, kenong dan lain sebagainya menjadi irama khas yang akan dapat didengar dari alat musik ini.
Adanya perpaduan bait-bait yang bernuansa Islami juga menjadi daya tarik tersendiri dari pertunjukan tari ini. Apalagi dengan adanya kesenandungan nada dengan penari serta bait yang dilantunkan.
Dengan menggunakan busana yang menutupi aurat tubuh, seperti kerudung, sarung tangan, dan kaus kaki, mereka terlihat begitu santun. “Jadi irama musik hadrah yang rancak dan menggebrak membuat bersemangat,” tandasnya. (ddy/bay) Editor : Rahman Bayu Saksono