Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gerak Kuntulan Dadaran Lebih Bebas, Tak Lagi Bertumpu pada Lutut

Rahman Bayu Saksono • Senin, 3 April 2023 | 14:36 WIB
AKULTURASI: Penabuh tari kuntulan mengenakan udeng penutup kepala adat Suku Oseng Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
AKULTURASI: Penabuh tari kuntulan mengenakan udeng penutup kepala adat Suku Oseng Banyuwangi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Disebut seni kuntulan lantaran penarinya kerap mengenakan rumbai putih, mirip burung kuntul (bangau). Ada pula yang mengembangkan menjadi kuntulan dadaran alias kundaran.

Seni kuntulan berangkat dari tradisi selawat di musala. Ada yang menggunakan tradisi berjanji dan lainnya. Selanjutnya terus mengalami perkembangan dengan disertai alat musik rebana ada jidor.

Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri mengungkapkan, perkembangan kesenian Kuntulan berlanjut dengan mulai diberi tarian yang sangat sederhana. Seperti tarian Saman yang berasal dari Provinsi Aceh, yang hanya bertumpu dengan lutut dan tidak berdiri.

Pakaian para penari kuntulan serba putih dihiasi dengan rumbai-rumbai di pundak layaknya militer di kerajaan. Di kepala mengenakan peci yang berbentuk lancip. "Makanya disebut kuntul, seperti burung kuntul. Makanya disebut kesenian kuntulan atau hadrah kuntulan," ujarnya.

Perkembangan selanjutnya di kesenian ini adalah dimasukkannya syair-syair lokal. Seperti pantun dan syair Banyuwangi. Karena masyarakat Bumi Blambangan yang minatnya terhadap kesenian tinggi. Membuat tari Kuntulan mudah merebak. "Akhirnya bermunculan grub hadrah kuntulan untuk diundang di acara masyarakat," tutur Hasan.

Eksistensi grup kuntulan di Banyuwangi. Salah satunya berasal dari Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. Kini juga ada tarian baru yang dikenal dengan kundaran (kuntulan dadaran). Di mana para penari tidak harus bertumpu dengan lutut saja. Melainkan pergerakannya sudah bebas. Seperti ada gerak pinggul.

Kemeriahan Kuntulan pernah terjadi di tahun 1990-an. Bahkan di masa ifu, tari Kuntulan sampai dibuat menjadi sebuah festival baik dari Pemkab Banyuwangi atau pun DKB.

Tari kuntulan pernah ditampilkan di Jakarta dalam Festival Islam Istiqlal. Tarian Kuntulan menjadi perwakilan kesenian Provinsi Jawa Timur yang berasal dari Banyuwangi.

Saat ini kecamatan di Banyuwangi yang memiliki kelompok tari Kuntulan terbanyak ada di dua kecamatan. Yaitu Rogojampi dan Singojuruh.

Hasan mengungkapkan upaya yang dilakukan untuk melestarikan tarian islam khas Banyuwangi. Yakni melalui pelaksanaan pagelaran Festival Islam Nusantara untuk menghidupkan kembali tari kuntulan. "Itu adalah cara kami untuk mengembangkan tari kuntulan," pungkasnya. (rei/bay) Editor : Rahman Bayu Saksono
#seni #Kuntulan #musik #Kundaran