Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Temu Misti Siap Mengajar Gandrung sampai Akhir Hayat

Rahman Bayu Saksono • Senin, 27 Maret 2023 | 13:12 WIB
MAESTRO GANDRUNG: Temu Misti tampil menari di Gesibu Blambangan Banyuwangi pekan lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MAESTRO GANDRUNG: Temu Misti tampil menari di Gesibu Blambangan Banyuwangi pekan lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Usia Temu Misti sudah 70 tahun. Namun, sang maestro gandrung itu tegas menyatakan siap mengajar tari sampai akhir hayatnya.

Mbah Temu Misti tinggal di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Sejauh ini, dia sudah berkiprah dalam kegiatan pelestarian tari gandrung selama lebih dari 50 tahun.

Temu sudah menjadi penari gandrung sejak tahun 1968. Saat itu usianya masih 15 tahun. Perempuan kelahiran 20 April 1953 tersebut, pertama kali tampil sebagai gandrung ketika seorang juragan bernama Sutris memintanya bergabung.

Temu selama ini belajar secara otodidak. Dia memperhatikan penari gandrung yang tampil di dekat rumahnya. Akhirnya dia tampil di hadapan penonton sebagai penari gandrung profesional untuk pertama kali. ”Saat itu saya nari tanpa pamitan ke ibu,” ungkapnya sembari tertawa.

Sekitar tahun 1970-an, adalah puncak kejayaan kesenian gandrung. Hampir tiap malam, Temu selalu tampil untuk menghibur para penonton. Bahkan pernah hampir dua bulan lamanya, dia tidak pulang. Selama itu pula, dia berkeliling menari bersama grup gandrung. Bukan hanya di sekitar rumahnya, dia juga tampil hingga ke wilayah Banyuwangi selatan dan luar kota. Dalam satu bulan, jadwal menari Temu saat itu minimal 20 malam.

Pada zaman dulu, saat menyanyi Temu tidak menggunakan pengeras suara. Karena itu, dia harus memaksimalkan suaranya saat tampil. Untuk melatih napas, dia berendam dan menenggelamkan kepala selama beberapa menit. ”Kalau tidak dilatih, suara vokalnya kalah dengan suara musik gamelan,” ungkap Temu.

Pada tahun 1980-an, suara emas Gandrung Temu direkam oleh Smithsonian Folkways, Amerika Serikat. Album Song Before Dawn yang berisi suara Gandrung Temu dirilis pada tahun 1991. Ada 11 lagu gandrung yang saat itu direkam antara lain Delimoan, Chandra Dewi, dan Seblang Lukinto. Temu mengaku hanya dibayar Rp 250 ribu tanpa ada kontrak kerja sama. Selain itu, dia hanya mendapatkan sampul album Songs Before Dawn yang dipigura dan sempat dipajang di dinding rumahnya.

Temu sempat berhenti menjadi penari gandrung ketika dia menikah di usia 18 tahun. Namun, pernikahan itu hanya bertahan selama dua tahun. Dia kembali menikah pada tahun 1977. Namun, lagi-lagi dia kembali bercerai karena suami keduanya cemburu dan kerap main tangan. Selanjutnya, Temu menikah dengan Adis pada tahun 2014.

Pada tahun 2015, Temu Misti sempat menari dan tampil di Jerman. Dia mewakili Banyuwangi dan sempat beberapa kali tampil di Jakarta untuk misi kebudayaan. Pada tahun 2015, rumah Temu juga menjadi jujugan 15 pelajar dari seluruh Indonesia untuk belajar tari gandrung pada sang maestro.

Mereka mendaftar secara online pada kegiatan belajar bersama maestro yang merupakan program Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendibud. Selain Temu, ada 10 maestro tari di Indonesia yang menjadi tempat belajar. Penari nasional Didik Nini Thowok juga pernah belajar menari gandrung ke Temu. Didik berkunjung ke rumah Temu yang berada di Desa Kemiren pada Mei 2017.

Menurut Temu, menjadi gandrung tak sekadar bisa menari. Tetapi juga harus bisa bernyanyi, serta menghibur penonton semalam suntuk, tanpa harus merendahkan diri sendiri. ”Kalau ditanya sampai kapan saya jadi gandrung, sampai saya nggak kuat lagi. Semampu saya akan terus saya ajarkan gandrung ke generasi muda di bawah saya. Biar mereka yang nanti meneruskan jika saya meninggal,” tandasnya. (ddy/bay/c1) Editor : Rahman Bayu Saksono
#tari gandrung #Temu Misti #banyuwangi #gandrung