Sejumlah warga menceburkan diri sembari mandi di aliran sungai tempat lawon-lawon tersebut dicuci. Sebagian warga meyakini air perasan lawon Buyut Cungking memiliki banyak khasiat. Warga pun rela berbasah-basahan demi mendapatkan air perasan lawon.
Selanjutnya air tersebut disimpan dalam botol. Misnah, salah seorang warga setempat menuturkan, dia bersama anak, cucu, dan cicitnya sengaja mengambil air perasan lawon untuk mencari berkah kesehatan dan kekuatan dari Buyut Cungking. Misnah dan keluarganya meyakini air tersebut memiliki banyak khasiat.
Tak hanya air perasan lawon, Misnah bersama beberapa warga lainnya juga berebut gebang yang digunakan untuk mengikat lawon. Gebang yang sudah berusia setahun lebih itu diambil warga karena dipercaya sebagai benda yang memiliki khasiat tolak bala. Begitu mendapat gebang, warga cepat-cepat memasukkan ke dalam kantung saku. "Gebang tersebut akan saya ikatkan di soko (tiang) rumah. Manfaatnya untuk menolak bala. Kalau mau keluar rumah juga bisa dibawa. Saya dari dulu percaya," imbuh nenek berusia 84 tahun tersebut.
Ritual resik lawon digelar warga Lingkungan Cungking tepat pada tanggal 13 Ruwah pada kalender Jawa atau dua pekan sebelum bulan Ramadan tiba. Sebelum dicuci, pukul 09.00, beberapa warga Lingkungan Cungking membantu kuncen petilasan Buyut Cungking melepaskan lawon yang terpasang di dalam petilasan.
Selanjutnya lawon dimasukkan ke dalam besek bambu berukuran besar. Lawon-lawon tersebut kemudian dipikul menggunakan tali dan kayu oleh sejumlah pria keturunan abdi dalem. Jarak yang harus ditempuh menuju Dam Krambingan sekitar 3 kilometer dan harus ditempuh dengan berjalan kaki.
Begitu tiba di sungai, kain putih panjang itu langsung digelar dan dicuci bersama-sama.
Setelah dicuci, warga kembali membawanya ke balai tajuk di tengah Lingkungan Cungking. Di sana, kain kembali dibilas dengan air bersih yang sudah ditaburi bunga tujuh rupa. Semua prosesi ritual dilakukan oleh kaum laki-laki. Sedangkan kaum perempuan menyiapkan makanan untuk disajikan kepada tamu-tamu yang datang ke balai tajuk.
Di tengah proses pembilasan, puluhan orang sudah berkumpul di sana untuk meminta air bersih bekas bilasan kain lawon. Air bilasan kafan kembali menjadi rebutan warga karena diyakini bisa membawa berkah. Setelah dibilas, kain putih tersebut dijemur di tengah jalan desa. Selama dijemur, kain putih tersebut tidak boleh jatuh ke tanah.
Kuncen Petilasan Buyut Cungking Jam’i Abdul Gani mengatakan, semua proses ritual resik lawon tahun ini berlangsung lancar. Meski sempat terhenti setahun akibat pandemic Covid-19, kali ini semua prosesi resik lawon berjalan seperti biasanya. Tamu-tamu dari luar Cingking ikut duduk di balai tajuk. Mereka melihat prosesi resik lawon sampai tuntas.
Tamu-tamu yang datang dari generasi ke generasi. Bapak, kakek, dan leluhur mereka selalu datang ketika berlangsung ritual-ritual berkaitan dengan Buyut Cungking. "Mereka datang juga membantu, supaya selamatan bisa berjalan lancar," kata Jam’i.
Kuncen generasi ke sembilan mengaku tak melihat tanda-tanda aneh dari ritual resik lawon. Seperti yang diyakini, pertanda alam kerap muncul di ritual resik lawon. Mulai dari peristiwa G30S PKI sampai tragedi pembunuhan misterius (petrus). ”Tahun ini resik lawon berjalan aman. Insya-Allah tidak ada tanda-tanda kejadian buruk,’’ kata Jami’i. (fre/aif) Editor : Gerda Sukarno Prayudha