Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Abdullah Azwar Anas ditugaskan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk menjadi koordinator bidang seni dalam kepanitiaan peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama. Sedangkan Menteri BUMN Erick Thohir menjadi ketua pengarah dan Yenny Wahid menjadi ketua pelaksana.
Anas mengoordinasikan pergelaran Festival Tradisi Islam Nusantara. Mantan Bupati Banyuwangi itu berkisah, semula ada sejumlah daerah yang dinominasikan sebagai tuan rumah FTIN. Namun, pada akhirnya Banyuwangi dipilih karena beberapa alasan.
”Di antaranya adalah Banyuwangi sudah dikenal dan berpengalaman menghelat beragam atraksi seni-budaya skala nasional maupun internasional. Selain itu, tentu saja ada argumentasi historis karena di Banyuwangi Salawat Badar digubah oleh KH Ali Manshur,” beber Anas.
Persiapan panjang pun dilakukan oleh panitia. Anas juga mendampingi Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf melaporkan persiapan peringatan Satu Abad NU kepada Presiden Jokowi pada 2 Januari 2023. ”Panitia melaporkan berbagai kegiatan dan persiapannya. Alhamdulillah, Presiden Jokowi memberikan dukungan, karena memang beliau selalu berkomitmen pada program-program yang selaras dengan nilai-nilai khas Nahdlatul Ulama,” papar Anas.
Berbagai persiapan pun digeber Anas dan tim. Rapat-rapat digelar secara daring, mengingat tim tersebar di Jakarta dan Banyuwangi. Sejumlah opsi atraksi seni-budaya dibahas. ”Akhirnya disepakati Lalaran Alfiyah Kolosal dan Kreasi Hadrah Nusantara,” ujar Anas.
Anas juga beberapa kali meninjau langsung proses latihan, baik di Stadion Diponegoro maupun di kawasan Masjid Cheng Hoo. ”Saya melihat semangat anak-anak muda yang luar biasa dalam berekspresi kesenian menyambut Satu Abad NU,” ujarnya.
Lalaran Alfiyah Kolosal melibatkan lebih dari 500 santri. Mereka membawakan tradisi menghafal nadzam ilmu nahwu tersebut, secara artistik dengan sentuhan berbagai budaya nusantara. Selain itu, juga ditampilkan Kreasi Hadrah Nusantara. Tampilan spektakuler ini diikuti oleh 300 penabuh rebana dan 500 penari yang membawakan ragam tari daerah berbasis Islam di nusantara. ”Tariannya juga diikuti oleh Banser dan Pagar Nusa,” jelas Anas.
FTIN dirangkai dengan konser selawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir As-Segaf. ”Ini menjadi penutup gebyar Festival Tradisi Islam Nusantara,” terang Anas.
Tidak hanya gebyar budaya yang meramaikan gelaran FTIN. Ada pula simposium yang melibatkan 25 cendekiawan dan budayawan berlatar nahdliyin dari seluruh Indonesia. ”Mereka berkumpul dan menuangkan pikirannya tentang kebudayaan untuk nantinya dijadikan buku,” jelas Anas.
Anas menyadari perhelatan yang ada belum sepenuhnya sempurna, tetapi secara umum berjalan baik. ”Terima kasih kepada seluruh yang memberikan dukungan. Para kiai, PCNU, dan jajaran, seluruh santri, Pemkab Banyuwangi, dan semuanya,” ujarnya.
Selain Presiden Jokowi, FTIN juga dihadiri sejumlah tokoh penting nasional. Di antaranya, Menko Polhukam Mahfud MD, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Menteri BUMN Erick Thohir. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turut mendampingi kedatangan Presiden Jokowi.
Dari jajaran pengurus PBNU hadir Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf, Bendahara Umum PBNU Gudfan Arif Ghofur, dan Ketua Badan Pengembangan Inovasi Strategis PBNU Yenny Wahid serta jajaran pengurus NU dari PBNU, PWNU Jatim, maupun pengurus cabang. (aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud