Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kampung Pancasila Jadi Contoh Harmonisasi Kebinekaan

Ali Sodiqin • Sabtu, 29 Oktober 2022 | 04:01 WIB
DISAMBUT HARMONI: Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) Letjen TNI Teguh Muji Angkasa tiba di Kampung Pancasila di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Kamis (27/10). (Dedy Jumhardiyanto/ Radar Banyuwangi)
DISAMBUT HARMONI: Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) Letjen TNI Teguh Muji Angkasa tiba di Kampung Pancasila di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Kamis (27/10). (Dedy Jumhardiyanto/ Radar Banyuwangi)
BLIMBINGSARI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) Letjen TNI Teguh Muji Angkasa mengunjungi Kampung Pancasila di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, Kamis (27/10). Jenderal TNI dengan tiga bintang di pundak ini disambut oleh Dandim 0825 Banyuwangi Letkol (Kav) Eko Julianto Ramadan dan sejumlah pejabat utama Korem Malang dan Kodam V Brawijaya.

Kedatangan Komandan Pusterad dan rombongan disambut dengan tari gandrung. Selanjutnya saat berjalan menuju lokasi, rombongan dihibur dengan lantunan rebana. Beberapa meter dari lokasi acara, mereka disambut dengan musik khas Bali. ”Toleransi, harmonisasi budaya, adat, agama di Banyuwangi ini sangat luar biasa. Sehingga, pantas dan layak di sini disebut sebagai Kampung Pancasila,” ujar Letjen Teguh.

Kampung Pancasila ini, kata Teguh, berkaitan erat dengan fungsi dan tugasnya sebagai Komandan Pusterad. Sebab, pembinaan teritorial menjadi roh dari TNI Angkatan Darat (AD). Sehingga, dirinya berkepentingan untuk berkunjung dan melihat langsung kearifan lokal yang ada di Banyuwangi.

Teguh menambahkan, Desa Patoman layak disebut sebagai Kampung Pancasila karena hanya Pancasila yang mampu menyatukan bangsa dan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, adat, dan ras. ”Ideologi Pancasila menjadi satu-satunya perekat budaya bangsa Indonesia,” tegasnya.

Kampung Pancasila di Desa Patoman ini, imbuh Teguh, bisa menjadi role model untuk keberagaman agama dan harmonisasi yang bisa dicontoh oleh kampung-kampung lain, desa lain, atau wilayah lain yang ada di seluruh Indonesia. Sebab, harmonisasi dan toleransi di kampung Patoman sudah sangat mengakar. ”Yang seperti ini harus terus dipertahankan. Khususnya, bagi generasi muda. Jangan sampai keharmonisan ini putus. Toleransi beragama, toleransi budaya yang ada di Desa Patoman ini harus terpelihara sampai selamanya,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Desa Patoman Suwito menyebut, nama Desa Patoman berasal dari kata patemon atau pertemuan. Dahulu desa ini menjadi tempat pertemuan untuk urusan kerukunan. Sehingga, akhirnya tempat itu disebut sebagai Patoman. Kerukunan di Desa Patoman ini terbentuk secara alamiah dan tidak dibuat-buat.

Menurut Suwito, di Desa Patoman ada pemeluk agama Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam. Semuanya hidup berdampingan dan rukun. ”Pura banyak, masjid dan musala banyak. Satu dengan yang lain tidak pernah ada gesekan. Kita terapkan betul nilai-nilai Pancasila,” tandasnya. (ddy/sgt/c1) Editor : Ali Sodiqin
#Desa Patoman #banyuwangi #Kebinekaan #kampung Pancasila