Pawai jodang kembang endog tersebut dipusatkan di jalan Dusun Krajan sampai Dusun Kejoyo. Masing-masing rukun tetangga (RT) beradu kreativitas membuat hiasan kembang endog, dan tapekong sejenis ogoh-ogoh yang memiliki filosofi kelahiran Nabi Muhammad SAW di kota Makkah.
Ada yang membuat replika simbol Kakbah, burung ababil, dan gajah. Ada juga yang menggambarkan Raja Abrahah dan pasukan gajah yang ingin mengancurkan Kakbah. “Inilah cara kami mengenang dan memperingati Maulid Nabi yang disebut Festival Muludan Likuran,” ungkap Kepala Desa Tambong, Agus Hermawan.
Kirab jodang endog-endogan diberangkatkan oleh Camat Kabat Bibin Widiatmoko dengan disaksikan ribuan warga. Seluruh masyarakat tumplek-blek di sepanjang jalan Dusun Krajan dan Dusun Kejoyo.
Dalam kirab jodang, ada kelompok pemuda yang mahir memainkan obor sembari menampilkan jurus-jurus silat. Sementara pemuda yang lain berbaris memainkan tongkat yang bagian ujungnya ada api yang menyala-nyala.Tak heran jika pawai tersebut disebut sebagai pencak obor. “Tradisi pencak obor sudah turun-temurun,’’ cetus Agus. (ddy/aif) Editor : Syaifuddin Mahmud