Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gambaran Multikulturalisme Indonesia dan Global

AF Ichsan Rasyid • Selasa, 11 Oktober 2022 | 22:02 WIB
BEDAH BUKU: Penulis buku Rahim Suci Bunda Sri Tanjung Samsudin Adlawi (kanan) bersama sastrawan Taufik WR Hidayat, Fatah Yasin Noor, dan Iqbal Baraas di Gedung Juang Sabtu siang (8/10). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
BEDAH BUKU: Penulis buku Rahim Suci Bunda Sri Tanjung Samsudin Adlawi (kanan) bersama sastrawan Taufik WR Hidayat, Fatah Yasin Noor, dan Iqbal Baraas di Gedung Juang Sabtu siang (8/10). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RADAR BANYUWANGI – Bedah Buku Rahim Suci Bunda Sri Tanjung di Gedung Juang Sabtu siang (8/10) berlangsung gayeng. Kegiatan tersebut dihadiri penulis buku sekaligus Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) Samsudin Adlawi.

Acara dipandu oleh Hukayuri sebagai moderator dan dihadiri beberapa sastrawan lain seperti Iqbal Baraas, Fatah Yasin Noor, dan Taufiq Wr Hidayat. Hadir pula Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri dan Ketua Komunitas Pegon Ayung Notonegoro.

Penulis Buku Rahim Suci Bunda Sri Tanjung Samsudin Adlawi mengatakan, dia menampilkan hal yang baru dalam bukunya. “Dalam buku ini, saya ingin bereksperimen. Saya selalu bereksperimen dengan buku puisi saya. Jadi setiap buku harus ada yang berbeda,” ujarnya.

Secara singkat, menurut Samsudin Adlawi, melalui buku tersebut pembaca akan mendapatkan gambaran multikulturalisme Indonesia dan global. “Sekarang tren buku-buku yang terbit seperti itu. Jadi tidak hanya ada satu rasa saja,” imbuhnya.

Terkait judul buku Rahim Suci Bunda Sri Tanjung, itu dikarenakan ada puisi dalam buku yang berjudul sama. “Dalam buku ini juga ada enam puisi rasa Banyuwangi yang menceritakan kearifan lokal,” kata pria yang juga penasihat DKB tersebut.

Sastrawan Iqbal Baraas menemukan beberapa hal menarik dalam buku karya Samsudin Adlawi tersebut. “Ada beberapa yang menarik menurut saya. Ada kata rahim, suci, bunda, dan Sri Tanjung. Hal ini mengkanalkan pikiran pembaca di mana buku ini memuat hal yang sakral. Ini sebuah pilihan diksi yang luar biasa,” jelasnya.

Iqbal melanjutkan, Samsudin Adlawi tidak ambil pusing dengan diksi yang rumit dalam puisinya. “Yang penting dia bebas berekspresi. Inilah yang saya lihat,” tuturnya.

Iqbal mengungkapkan profesi Samsudin Adlawi sebagai seorang wartawan sekaligus penyair. “Wartawan selalu bersinggungan dengan fakta sementara penyair bersinggungan dengan khalayan atau imajinasi. Ini dua hal yang bertolak belakang,” imbuhnya.

Taufiq Wr Hidayat sepakat dengan yang disampaikan oleh Samsudin Adlawi. “Dia bereksperimen dengan menulis puisi prosais. Sudut pandang yang dipakai adalah orang ketiga,” ujarnya.

Menurut Taufiq, hal yang ingin disampaikan Samsudin Adlawi adalah makna dari kesucian. Makna tersebut bersifat esensial atau penjagaan. “Rahim Suci Bunda Sri Tanjung bermakna rahim suci itu dijaga oleh Sri Tanjung. Kemudian diceritakanlah melalui sudut pandang orang ketiga,” jelasnya.

Makna kesucian adalah rahim tersebut dijaga atau tidak menyeleweng. Lewat puisi berjudul Rahim Suci Bunda Sri Tanjung, Samsudin Adlawi ingin menyampaikan pesan kepada pembacanya agar mencontoh Sri Tanjung. “Barangkali penyairnya gelisah dan menuliskannya dalam syair,” kata Taufiq.

Masih menurut Taufiq, Samsudin Adlawi mengambil mitos sebagai spirit dalam buku kumpulan puisinya. “Hal yang menarik, karena mitos lebih dekat dengan masyarakat ketimbang sejarah. Mitos disampaikan turun-temurun di masyarakat dengan bahasa yang sederhana. Berbeda dengan sejarah yang bahasanya ndakik-ndakik,” ujar Taufiq.

Tak lupa, Taufiq juga memberikan kritik kepada karya Samsudin Adlawi. “Andai Rahim Suci Bunda Sri Tanjung tidak ditulis dalam bentuk prosais, mungkin isinya akan lebih berirama,” jelasnya.

Sementara itu, Fatah Yasin Noor menjelaskan, buku karya Samsudin Adlawi ini dipenuh mitos. “Tapi buku ini termasuk karya puisi modern yang erat kaitannya dengan pembacaan dekat. Pembacaan Samsudin Adlawi terhadap lingkungan dan mitos yang ada di Banyuwangi jelas bertentangan dengan rasionalitas,” ujarnya.

Pada sesi diskusi, Samsudin Adlawi mengatakan bahwa buku ini masih dalam proses pengiriman. “Jika ingin memiliki, bisa langsung menghubungi Jawa Pos Radar Banyuwangi sebagai satu-satunya distributor di Banyuwangi,” kata dia.

Samsudin Adlawi juga sepakat dengan penyampaian Taufiq, yakni orang lebih dekat dengan mitos dibandingkan sejarah. “Jarang ada orang tua yang membacakan sejarah sebagai pengantar tidur. Pasti yang dibacakan mitos,” jelasnya.

Samsudin melanjutkan, ada tiga nilai menarik dalam kisah Sri Tanjung. Pertama adalah kejujuran. Kemudian, Sri Tanjung ini adalah sosok yang bisa menjaga kesuciannya. Dia juga mampu menjaga kesetiaan.

Ketika ditanya seputar peruntukannya, Samsudin menjawab, buku Rahim Suci Bunda Sri Tanjung dapat dibaca oleh siapa pun, baik penggemar sejarah maupun sastra. “Pembaca buku tersebut juga dibebaskan untuk memaknai sendiri isinya,” pungkasnya. (cw3/sgt) Editor : AF Ichsan Rasyid
gedung juang bedah buku Rahim Suci Bunda Sri Tanjung samsudin adlawi