Talk show mengulas sepak terjang Armaya dan Hasnan Singodimayan di dunia sastra Banyuwangi berlangsung gayeng. Empat narasumber, yaitu Hasan Basri, Abdullah Fauzi, Fatah Yasin Noor, dan Taufiq Wr Hidayat hadir menyampaikan pengalaman bersama mendiang Abdul Kadir Armaya dan Hasnan Singodimayan. Dewan Pengarah DKB (Dewan Kesenian Blambangan) yang juga Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) Samsudin Adlawi didapuk sebagai moderator dalam kegiatan bertajuk ”Tribute to Armaya-Hasnan Singodimayan” tersebut.
Ketua DKB Hasan Basri mengatakan, dia beberapa kali bertemu dengan Armaya dan terkesan dengan hidupnya yang sederhana. ”Armaya adalah seorang sufi yang melakoni hidup dengan penuh kesabaran dan kesederhanaan,” ujarnya.
Hasan menyampaikan, niat tulus Armaya untuk mengembangkan sastra di Banyuwangi telah melahirkan banyak sastrawan lain. ”Mereka menggelora kesastraan dan kreativitasnya karena difasilitasi dan dorongan Armaya,” imbuhnya.
Direktur JP-RaBa Samsudin Adlawi menambahkan, dalam bahasa kesenian, Armaya disebut Maecenas. ”Dia adalah orang yang punya uang lebih. Kemudian, dia melindungi seni atau budaya. Dia peduli dan menghidupi seni,” ujarnya.
Samsudin menyebut, selama kurang lebih sepuluh tahun, Armaya mengelola Pusat Studi Budaya Banyuwangi (PSBB). Anggotanya terlibat diskusi aktif, membaca literatur, dan menerbitkan hasilnya dalam beberapa edisi majalah. ”Di dalamnya tidak hanya cerita kebudayaan, tapi juga memuat karya puisi,” kata dia.
Taufiq Wr Hidayat mengatakan, Armaya mengingatkannya kepada Pablo Neruda, seorang penyair yang hidup bersama masyarakat buta huruf. ”Jadi, Armaya itu menerbitkan buku, tapi yang membaca itu para magersari. Senang sekali mereka jika diberikan buku, tapi tidak diketahui apakah buku tersebut dibaca,” ujarnya.
Menurut Taufiq, Armaya adalah seorang sastrawan yang menekankan pada hubungan antarmanusia. ”Armaya mengoleksi puisi sekaligus penyair. Sang penyair diminta untuk menulis puisi, lalu dibikinkan buku,” kata dia.
Sementara itu, Abdullah Fauzi mengatakan, Hasnan Singodimayan memiliki banyak penghargaan dari tulisan tentang Banyuwangi. ”Hasnan menjadi maestro sastra daerah dan mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” ujarnya.
Dalam acara tersebut, Fatah Yasin Noor membacakan dua puisi karya Armaya yang berjudul Bila Aku Pulang dan Hujan. Di akhir acara, Samsudin Adlawi mengusulkan untuk memberian penghargaan kepada mendiang Armaya sebagai ”Bapak Literasi Banyuwangi”.
Sementara irtu, Jambore Literasi Banyuwangi akan berlangsung mulai Kamis (6/10) hingga Sabtu (15/10) di Gedung Juang. Acara tersebut diiniasi Komunitas Pegon bersama Dinas Pendidikan Banyuwangi. Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno mengatakan, kegiatan Jambore Literasi ini sebagai pelengkap tugas untuk memberdayakan literasi. ”Salah satu tugas kami adalah pemberdayaan literasi,” ujarnya kemarin (6/10).
Saat ini, buku mengalami tantangan yang luar biasa. Perkembangan zaman memunculkan rival dari buku, yaitu gawai. ”Anak-anak kita tidak bisa lepas dari gawai,” imbuh Suratno.
Suratno menuturkan, orang Indonesia hanya mampu bertahan untuk tidak berinteraksi dengan gawai setidaknya selama 8 menit. Suratno mengajak untuk mencoba menghitung sendiri waktunya. ”Coba letakkan gawainya, berapa menit tahannya,” kata dia.
Gawai memang memiliki sisi positif, salah satunya untuk percepatan informasi. Di sisi lain, penggunaan gawai dapat berpotensi mengganggu aktivitas, misalnya karena banyaknya tawaran menggiurkan. Tawaran tersebut biasanya muncul dari iklan yang tampil.
Di ilmu psikologi, ada tantangan berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Inilah yang menjadi tantangan bagi generasi muda saat ini. Adanya gangguan (distraction) yang muncul menyebabkan seseorang kesulitan berkonsentrasi dalam waktu yang lama. Secara terus-menerus akan membuat pikiran tidak mampu terkonsentrasi ke satu titik.
Suratno menyebut, orang yang sukses namun literasinya rendah akan tergerus oleh zaman. Dia mencontohkan kasus produk Kodak yang tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. ”Akhirnya, produknya terpuruk. Ini tanda literasinya tidak bagus,” katanya.
Sementara itu, Founder Komunitas Pegon Ayung Notonegoro mengatakan, kegiatan ini digelar sebagai apresiasi pencinta literasi Banyuwangi. ”Wadah pencinta literasi untuk bisa berekspresi dan mendapat tempat yang layak dalam menyampaikan gagasan,” ujarnya.
Senada dengan Suratno, Ayung berpendapat, buku mengalami tantangan berat di tengah digitalisasi. ”Buku semakin sunyi. Namun, tetap harus dipertahankan,” kata dia.
Masih menurut Ayung, pada abad ke-21 akan ada lubang hitam informasi. Hal ini muncul karena banyak data yang dikonversi dalam format digital. Dia mencontohkan, data yang disimpan pada hard disk nantinya akan hilang ketika perangkat tersebut rusak.
Namun, imbuh Ayung, hal itu tidak terjadi pada buku. Tulisan di dalamnya akan tetap abadi, bahkan berumur lebih panjang dari sang penulis. ”Banyak buku yang umurnya lebih tua dari penulis. Contoh pada Kitab Negarakertagama di mana terdapat tulisan Bhineka Tunggal Ika. Tulisan tersebut bahkan kembali dikutip jauh setelah si penulis meninggal,” pungkasnya. (cw3/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud